Ilustrasi untuk puisi karya Tjak S. Parlan, penulis kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur yang kini menetap di Mataram, Nusa Tenggara Barat. (Ilustrasi: Wawan Bastian/Erakini)
Sesekali menjelang makan siang
kau akan teringat para peladang,
para pejalan jauh yang rindu bau
pekarangan rumah setelah sawah
ketika rasa lapar tak lagi memanjang
ke meja restoran. Sebab kau tahu
tangan ibu lebih terampil
menyiapkan sompil,
dan bukan perkara mudah
menemukan kenangan kecilmu pada rumah,
pada tekstur lembut lontong potong dadu,
pada pedasnya lodeh khas Mataraman itu:
gurih rebung, lotho dan kacang panjang,
ada kalanya dengan daging pepaya
atau nangka muda, dan waktu-waktu berselang
tak bisa dihilangkan dari rempeyek
dan bumbu kacang.
Tak bisa kau lupakan warna sangrai bubuk kedelai
—ditabur-tabur pada menu makan siangmu,
bagai pupur penyedap pada piring beling
bergambar bunga-bunga.
Sesekali menjelang makan siang,
terkenang juga panjang bentang lapar:
pernah kautempuh bermusim paceklik
hingga ke lengang udik,
hingga batang-batang padi tak lagi merunduk
dan hijau teduh palawija tak tersisa
Es Pleret, Seperti Kenangan yang Menjalar ke Tubuhmu
Di pujasera,
hari mencair dalam gelas-gelas kaca
setelah gurih santan juga juruh gula
dituang dan menggenang lubang
bola-bola pleret
—bola-bola warna merah,
hijau muda, dan putih pudar
dari tepung beras yang segar.
Setelah es batu, sedikit dawet dan mutiara
menjadi paduan yang nyaris sempurna.
Lalu kau kenang, setelah
seteguk pertama yang tak asing:
bening nira sebelum disuling,
bau kulit gabah terkelupas
di halaman rumah, musim-musim
ranggas dan lapuk ingin lekas
bertemu segala yang sejuk.
Seteguk berikutnya
jika dahagamu belum pergi juga,
barangkali akan ada yang berlalu
—dan kau tak pernah tahu.
Ada yang diam-diam
memandang ke seberang alun-alun,
berharap langit yang terbuka
tetap menjaga apa yang dibiarkannya
menjadi rahasia:
sedih yang kerap dimungkiri,
warna terang yang disimpan
memucat selepas pertemuan.
Tapi di pinggir alun-alun ini,
kau hanya hendak menerima
—dan tak ingin kehilangan—
cita rasa yang tahan lama
seperti kenangan
yang menjalar ke tubuhmu,
setelah gurih-manisnya
bola-bola pecah
dan leleh di lidah.
Tubuhmu yang dihantam
terik dan masa lalu
barangkali butuh segar susu:
segar-dingin dengan lembut
aroma-rasa santan kelapa
dan gula jawa.
Segar-dingin dari aneka varian:
stroberi, kacang hijau, cokelat,
juga durian.
Segar-dingin yang dikirim
dari masa yang jauh:
tahun-tahun lama
jaman meneer dan menvrouw
di tanah Patria.
Dan kini, ingatanmu yang lebih haus
dari gurun, tak bisa dihilangkan
dari bujuk rayu warna-warna pastel:
lembab kertas roti telah tersingkap
dan kabut tipis menguap
dari sekujur es loli,
sekujur dengan galur-galur basah
terasa sejuk di lidah, terasa hingga
ke langit-langit tekak, ke puncak
kelegaan yang kau inginkan
—puncak kelegaan Es Drop,
bukan Popsicle ala Unilever,
bukan Epsicle bikinan Frank Epperson*
dari Oakland atau San Fransisco
pada masa lampau.
Kolomayan, 18 Mei 2024
*) Es Loli pertama kali tercipta secara tidak sengaja oleh Frank Epperson pada tahun 1905. Ia menamakan produknya Epsicle, yang lantas lebih dikenal sebagai Popsicle.
Dari pinggiran Kunir,
sesekali kita memintas Brantas,
demi sebuah kereta yang terus menderu
dalam kepalamu.
Tiba di Ngunut
—stasiun kecil itu—
tak ada bunyi tut tut tut
seperti yang kau dengar dalam lagu.
Sementara yang tiba
kekosongan belaka: waktu
melamban di ruang tunggu,
dan kau segera tahu
bahwa peron hanya
untuk mereka yang hendak menuju,
untuk mereka yang punya
rencana-rencana.
Maka kita tinggalkan stasiun,
berhenti sebentar di seberang pasar
sebelum rel kereta
hanya untuk mencium
harum-legit yang samar
menguar dari pabrik kecap,
mengingatkan pada aroma seruas jalan
di kota yang telah kita tinggalkan.
Beranjak ke utara, kita melewati
Pasar Wage yang belum buka
dan aku teringat sebuah cerita:
seorang laki-laki dari Kolomayan
pernah berangkat pagi-pagi buta
menjual ternak kesayangannya
di hari pasaran.
Di atas perahu tambang
aku terkenang selat yang panjang,
seketika rindu pada derit lambung kapal
—sesekali dengan ketakjuban
sekaligus kegentaran
yang menggumpal
di lambungku.
Tapi di atas perahu tambang ini,
angin terasa lebih sepoi
datang dari rindang ladang
—rumpun perdu, pucuk-pucuk tebu,
dan hijau rumput-rumput gajah—
mengalir ke wajah anak-istriku
yang tenang memandang
paras lengang arus Brantas.
Mengalir ke wajah orang-orang
yang tak lagi senggang untuk berbincang
atau memesan kopi dan pop mie
seperti dalam ferry, atau membuka halaman
sembarang—dan membacanya dalam hati—
sebuah buku puisi seorang penyair muda
pengidap aerophobia.
Di atas perahu tambang,
jarak ke seberang sedekat kata pulang
yang menunggu di pelupuk pandang,
sebelum awak tambangan
menarik perahu ke utara atau selatan.
Sebelum bayang-bayang kecemasan
berkisar-kisar Kembali
Sebatang jalan membawamu
ke arah sehari-hari. Ke madrasah,
toko kelontong, lalu rumah
—ruang dengan sepi yang lapang
untuk menuang gambar-gambar
dari dalam kepalamu.
Ada kota yang terus berdiri
dalam jarak sayup-sampai di hari Minggu,
kota yang tak bisa kaurengkuh begitu saja;
sesekali menjadi jarak yang menyelamatkanmu
dari kemacetan, dari suara-suara meriah kendaraan,
dari radang tenggorokan, dari udara gerah
menjelang pagi, dari bau khas makanan
nyaris basi yang dihangatkan,
dari bau anyir
hari-hari ketika jatuh fakir.
Sebatang jalan membawamu ke dusun ini,
dengan lanskap kota yang masih terjaga
dalam buku gambarmu; kota masa kecil
dengan warna abu pensil.
Dan di sini, harum penghapus
warna hijau pupus tak juga menghapus
senyum tipismu malu-malu
pada tegur sapa teman sebaya
—teman-teman barumu di sekolah pagi.
Suatu hari, layang-layang itu lagi:
bunyi parau sendaren, angkasa
dengan kecemasan laten yang sama.
Kau dengan gumam
yang tersendat, mendongak:
hidup jauh dari penerbangan sore hari
mestinya tak perlu ada yang tergesa
berjalan sendiri,
tak perlu ada seseorang
–dengan hatinya yang meriang—
melambaikan tangan dari balik
jendela taksi.
Barangkali kau hanya perlu duduk
merasakan senyap-lembab pada rumput
seraya menunggu dengan tekun
matahari lesap ke seberang dusun
—dan tak ada seorang pun berhasrat
membicarakan warnanya yang merah jagung
sebelum memudar menjadi kata-kata kuno
yang selalu luput diucapkan.
Dan kau tahu
langit yang nostalgik itu
tetap saja terbuka
untuk ingatan-ingatan lama:
bahwa adakalanya
seseorang mengulur kenur waktu
berburu angin kebahagiaan, melayangkan
apa saja yang dengan cara paling meyakinkan
disebut sebagai harapan.
Kolomayan, 3 Juni 2024
Tjak S. Parlan,
Penulis yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, menekuni perwajahan (desain) buku dan media cetak (koran, majalah, bulletin, jurnal, zine). Sejak tahun 1996 hingga tahun 2023 menetap di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Saat ini mukim di Desa Kolomayan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Bukunya yang telah terbit:
- Kumpulan Cerpen Kota yang Berumur Panjang (2017),
- Feature Perjalanan Berlabuh di Bumi Sikerei (2019),
- Kumpulan Cerita Pendek Sebuah Rumah di Bawah Menara (2020),
- Kumpulan PuisiCinta Tak Pernah Fanatik (2021).