Esai ‘Konfrontasi Orang Miskin’
S. Prasetyo Utomo
ORANG miskin seringkali menjadi sasaran pelecehan tokoh-tokoh yang lupa diri. Berkali-kali terjadi, orang miskin menerima caci-maki, penistaan dan umpatan kasar. Terlontarlah sarkasme terhadap orang miskin untuk kepentingan kekuasaan atas nama agama, dan citra palsu. Orang miskin menjadi sasaran penghinaan tokoh-tokoh tertentu. Orang miskin juga menjadi obsesi bagi orang-orang untuk melakukan pembelaan untuk melakukan konfrontasi ideologis terhadap tokoh-tokoh yang menindas.
Empati terhadap orang miskin yang tertindas muncul dari para penyair. Mereka mencipta puisi yang berobsesi pada penderitaan orang miskin yang terhina. Berkembanglah konfrontasi dalam puisi para penyair, sebagai pembelaan terhadap kaum penindas. Mereka menggunakan bahasa satire untuk menyingkap kedok kebusukan hegemoni kekuasaan yang memanfaatkan orang miskin sebagai objek penindasan.
Sungguh menarik membaca puisi para penyair yang menciptakan empati terhadap orang miskin yang tertindas, seperti Mustofa Bisri dalam puisi “Soal Kemiskinan”. Tokoh penyair Angkatan 66, Taufiq Ismail, juga mengekspresikan suasana batin orang miskin dalam “Syair Orang Lapar”.
Dari Madura, D. Zawawi Imran mencipta puisi “Percakapan di Satu Desa” untuk menyingkap empati terhadap orang miskin. Dengan pilihan kata yang memiliki makna paradoksal, Saini K.M. menulis puisi “Ahim, Pengangkut Sampah”. Begitu juga dengan Joko Pinurbo, yang mencipta puisi “Penjual Kalender”, memanfaatkan bahasa satire untuk melakukan pembelaan terhadap nasib orang miskin.
***
Satire dan kritik menjadi bagian paling dominan dalam puisi Mustofa Bisri. Orang miskin menjadi objek yang selalu diperbincangkan karena bernasib buruk dalam stratifikasi sosial. Dalam puisi “Soal Kemiskinan”, tampak benar bahwa Gus Mus menciptakan paradoks nasib orang miskin yang dihadapkan dengan kesombongan tokoh-tokoh yang memanfaatkan mereka atas nama dominasi kekuasaan:
“Biar sangkil dan mangkus/ Sehat, canggih, dan terfokus/ Marilah kita bicarakan soal kemiskinan ini/ Sambil bermain golf dengan serius// Atau agar khusuk dan tenang/ Kita seminarkan saja di hotel berbintang/ Para pakar dan pengusaha kita undang/ Syukur bila para bintang juga datang//.
Gus Mus menyampaikan kesadaran bahwa orang miskin selalu menjadi objek perbincangan cendekiawan, pengusaha, dan selebritas. Di balik bahasa satire ini, ia melakukan konfrontasi terhadap tokoh-tokoh yang mengangkat kehidupan orang miskin menjadi objek perbincangan dalam seminar.

















