Esai ‘Royyan Julian: Sebuah Usaha Merawat Kenangan’
Sahlan KH
SETELAH tiga puluh delapan bulan menulis puisi dalam kungkungan tema romantisme dan urban, sedikit berbalik badan walau teramat lamban tema lokalitas ternyata masih anggun dan menggairahkan. Kampung halaman, kisah-kisah mengagumkan, dan sejumlah persoalan yang mulai cukup berdebu dalam kejamnya waktu, saya menyebutnya museum masa kecil. Hal semacam itu tak banyak disentuh oleh penyair.
Beberapa bulan yang lalu, kumpulan sajak Uroboro Syekh Kholil Bangkalani (Basabasi, 2023) karya Royyan Julian menjadi nominasi penghargaan sastra Kemendikbudristek 2024. Buku itu berisi sebanyak lima puluh butir puisi yang temanya secara keseluruhan nyaris seragam, yaitu perihal lokalitas Madura.
Di tengah gempuran puisi bermotif urban yang marak muncul di halaman surat kabar online, cetak, atau bahkan dalam perhelatan sayembara sekelas DKJ, rupanya Madura masih menjadi lahan subur bagi jalan kepenyairan Royyan Julian. Akan tetapi dan sangat perlu untuk digaris bawahi, puisi-puisi Royyan hadir dengan warnanya yang baru. Dapat dikatakan baru karena pada tahun-tahun sebelumnya, penyair-penyair Madura tidak lepas dari bius diksi bahkan pengucapan penyair sepuhnya yaitu D. Zawawi Imran. Hal-hal semacam itu tampak dalam sajaknya di bawah ini:
Aku telanjang dan berserah
di bawah hujan likat
yang menetes dari nafas nafsumu.
Lalu kebugilan lembut itu
mengerami janin kuda jantan
yang ‘kan lahir dari pembangkangan
demi pembangkangan,
dimatangkan sidik jari bulan
dan jejak kaki taufan.
“Singgahlah di tubuh sunyiku, Kanda.”
(Malam Adipoday, hlm. 68)

















