Puisi-Puisi Ngadi Nugroho
Ngadi Nugroho
Jendela
Di balik jendela ini aku seperti melihat jarum-jarum kehidupan jatuh di tubuh jalan. Semua bercerita tentang keakuan. Ataupun tentang batu-batu yang berserak merutuki perjalanan.
Di balik jendela rumah, di balik jendela hotel, di balik jendela yang berembun kacanya. Semua sama, meminjam sebuah kisah lalu yang ujungnya sering kali lupa.
Sering kali pula langkah berjingkat itu adalah langkahku, yang kupinjam dari tubuhmu.
Ketika langit menurunkan percik hujan. Yang membedakan kita hanyalah waktu.
Ketika kubuka jendela; masih sama. Daun-daun yang bergoyang, seperti singkapan gorden saat mata merindukan cahaya. Di ruang tamu pun, aku masih membayangkan wajah-wajah itu.
Terkadang melintas sambil tersenyum. Mungkin saja kenangan yang membuat dia terperangkap, hingga bibirnya ramah menyapaku. Hanya saja alarm waktu berdering tiba-tiba.
Ketika pukul 18:00 telah lewat. Suaranya seperti mengingatkanku untuk menutup gorden dan jendela. Meninggalkan gelap di luar sana. Memadamkan segala cahaya yang masih menyala.
Januari 2024
Dermaga
Aku ingin menjaring lagi kenangan itu. Mengumpulkannya menjadi huruf yang tak ragu-ragu nyanyikan rindu. Walau ombak selalu menepuk perjalanan sunyi ini. Dan di ujung yang jauh, jauh sekali, aku melihat napasku berdiri.
Melambaikan tangannya, di atas mercu. Ketika aku tahu di sana, tubuhku tak mungkin kembali; menjadi debu. Hanya untuk mengikat kembali benang-benang temu.
Yang pernah getas dan rantas. Barangkali kita kan bertemu. Di dermaga itu–pelukanMu.
Januari 2024
Jarak
Di sela-sela waktu, detik itu merayap diam-diam. Di jantungku! Menghembuskan hidup. Hanya karena di tempat ini.
Lidahku tak lebih dari sebuah batu dan tubuhku sebongkah tanah. Hanya debu yang berserak, terbang tak tentu arah. Mungkin tersesat pada sekilat pisau yang akhirnya menyanyatkan luka.
Kau. Di sana? Di manakah? Sampai selesai semua lakon ini? Bagaimana dengan sisa peluhku yang pernah terjebak saat aku pertama kali menangis?


















