Ilustrasi – Cover buku 'Syair-syair Asmaul Husna' karya Emha Ainun Nadjib yang terbit pertama pada Februari 1994 oleh penerbit Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Sholahudin Press dan diterbitkan ulang oleh penerbit Progress di tahun 2005. (Foto: Instagram/gamelankiaikanjeng)
BUKU ‘Syair-syair Asmaul Husna’ terbit pertama pada Februari 1994 oleh penerbit Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Sholahudin Press, dan sempat terbit ulang oleh penerbit Progress di tahun 2005. Sejauh amatan saya, buku ‘Syair-syair Asmaul Husna’ kalah popoler dibanding buku ‘99 Untuk Tuhanku’.
Ketika saya masukkan judul ‘Syair-syair Asmaul Husna’ ke kolom pencari Google, tidak banyak apresiasi yang layak atas buku ini, dan sebaliknya banyak kajian baik yang popular maupun ilmiah atas karya ‘99 Untuk Tuhanku’.
‘Asmaul Husna’, 99 Nama Baik (indah) Tuhan, merupakan salah satu khazanah Islam. Al Qur’an sendiri menyebut kata ‘Asmaul Husna’ sebanyak 5 kali yakni pada surat Al-A’raf ayat 180, surat Al-Isra’ ayat 110, surat Thaaha ayat 8 dan surat Al Hasyar ayat 24.
Selain itu nama-nama yang termasuk Asmaul Husna tersebut pada banyak ayat Al Quran. Sebuah hadits Nabi menyebutkan satu-persatu masing-masing dari asmaul husna itu. Nama-nama itu, baik sebagian atau seluruhnya, kerap dilantunkan seorang muslim sebagai bagian dari zikir dan doa. Asmaul Husna menjadi sumber inspirasi Emha Ainun Nadjib. Dua buku puisi, ‘99 Untuk Tuhanku’ dan ‘Syair-syair Asmaul Husna’ tentunya terinspirasi darinya.
Pertama, buku ‘99 Untuk Tuhan’merupakan puisi perjalanan ruhani dalam mencari kebenaran. Penyair berulang-ulang berseru, “Tuhanku… Tuhanku…” Kadang seruan itu seperti (menuntut) dibaca lantang, atau lirih, bahkan cukup dibatin. Mungkin karena Tuhan kadang terasa dekat (bukankah Tuhan Maha Mengetahui dan Maha Mendengar), tapi dapat tiba-tiba seolah terasa jauh (tentu Ia Pun Maha Agung).
Manusia dengan ikhtiar, amal dan dosanya, berdialog dengan Tuhan, tentang diri (juga Tuhan), juga tentang kehidupan gemerlap namun kering makna. Lewat ‘99 Untuk Tuhanku’, Emha Ainun Nadjib bersembahyang, menyembah, berdialog dengan Tuhannya. Puisi-puisi ini, berjudul angka mulai dari 0 hingga 99, tak lain munajat tiada henti antara manusia dengan Tuhannya, juga menggambarkan aras-aras spiritualitas yang dialami sang penyair.
Buku kedua, ‘Syair-syair Asmaul Husna’ berisikan penafsiran Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun atas Nama-nama indah Allah. Dalam bagian Pengantar Penulis, esai ringkas “Seekor Laron Mengarungi Samudera” (hal. xv), Penyair berrendah hati, menyebut karyanya bukan puitisasi atas Asmaul Husna.
Sama sekali tidak saya miliki keberanian untuk menyebut buku ini sebagai puitisasi asma Allah… Aku tidak membaca Allah, apalagi menterjemahkannya. Aku sekadar belajar mengeja diriku sendiri.
Meski demikian, menimbang pola ungkap larik, juga diksi, terang menunjukkan karya ini tulenpuisi. Pengantar Penerbit (hal. v ), yakni Shalahudin Press, penerbit yang juga menerbitkan ‘Lautan Jilbab’, bekerja sama dengan penerbit Pustaka pelajar, menyebut tujuan penerbitan buku ini tidak hanya untuk menyemarakkan dunia sastra tapi juga untuk menambah bobot nilai kehidupan keberagamaan. Karya sastra kaya makna spiritual, sebagaimana Syair Asmaul Husna, membasahi peradaban kering makna dan materialistik semata.
Puisi-puisi Mbah Nun dalam ‘Syair-syair Asmaul Husna’, tidak menyajikan aspek teologi rumit. Kita tidak membaca jabaran kaidah akidah yang mengawang dan abstrak. Puisi-puisi dalam ‘Syair-syair Asmaul Husna’ bertolak belakang dengan kebanyakan tabiat puisi yang genit menyembunyikan maksud. Mbah Nun melalui karyanya ini mengusik kita, membongkar pemahaman untuk merenungkan asmaul husna. Mbah Nun mengajak kita mematut diri di depan 99 nama dan sifat-Nya.
Setiap puisi berjudul masing-masing nama dari Asmaul Husna. Puisi pertama berjudul Allah, selanjutnya Ar Rohman, seterusnya hingga Ash Shabuur. Diksi-diksi puisi Mbah Nun lugas dan puitis. Kadang penyair menyampaikan renungannya akan asma Allah, kadang mengajak untuk bermunajat, dan kadang menghimbau karib seolah menemani pembaca duduk memikirkan kehidupan.
Dalam bagian Pengantar Penulis, Seekor Laron Mengarungi Samudera tampak Mbah Nun merujuk kepada khazanah tasawuf. Annemarie Schimmel (dalam Menyingkap Yang Tersembunyi) menyebut tabiat laron (ngengat) sebagai penyuka cahaya, yang dengan usia relative pendek, seringkali malah terbakar saat terbang mengitari dan mendekati lampu. Laron menjadi salah satu simbol favorit para sufi.
Mbah Nun menulis, apa yang coba saya lakukan barangkali sepadan dengan seekor laron yang …menggunakan haknya dari Allah untuk turut mengarungi keluasan samudera hakikat dan ilmu-Nya.
Mbah Nun, sang Penyair mengimbau pembaca untuk memasuki perenungannya. PuisiAllah, Allah mengungkap perenungan atas asma pertama dari asmaul husna, Allah. Mbah Nun menegaskan bahwa Tuhan (Ilah) manusia hanyalah Allah yang Tunggal, tiada bergantung pada pengakuan makhluk, tiada bertambah atau berkurang jumlah tersebab ketaatan atau kedurhakaan makhluk.
Waktu kau sebut Allah
Hanya Dia-lah Ilah
Waktu kau sebut Ilah
Hanya Allahlah Dia
Waktu kau ucap Segalanya
Waktu tak kauucapkan apa-apa
Tetap Jua : Ilah hanya Allah
Allah jua yang Ilah
Kita ada atau taka da
Kita durhaka atau mematuhinya
Disebut satu atau pun tiga
Allah Mutlak Tunggal ada-Nya.
Selebihnya: hanya bayangan hampa
Dikejar orang berjuta-juta
Kecuali saudara kita
Yang jujur memandang cakrawala
Bait satu sampai ke tiga, menegaskan kemutlakan Allah sebagai Tuhan alam semesta. Allah adalah Ilah, baik ketika manusia mengakuinya sebagai Tuhan, ataupun bahkan jika tidak mengakuinya. Allah tetaplah Tuhan (Ilah) bahkan ketika manusia justru durhaka kepada firman dan perintah-Nya. Kata Allah sendiri, menurut Sachiko Murata dan William C. Chittick (dalam buku Iman, Islam, dan Ihsan), bersandar pada kata ilah yang berarti tuhan.
Kelanjutan puisi ini menarik, semacam simpulan. Penyair menyindir kebanyakan manusia yang terkecoh mengejar yang berjuta-juta (banyak, material, namun hampa dan palsu). Selebihnya: hanya bayangan hampa dikejar orang berjuta-juta kecuali / saudara kita yang jujur memandang cakrawala.
Dua larik terakhir memaksa kita membaca kembali Al Qur’an Surah Al Fushilat ayat 53, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (Kekuasaan) Kami di segenap ufuk (cakrawala) dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar” dan Surah Al-Dzariyat ayat 20-21, Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?”
Ayat ini menggarisbawahi setidaknya dua hal. Pertama, alam semesta (makrokosmos, atau sebut kosmos saja, atau jagad gede) dan diri manusia (mikrokosmos, jagad alit) saling terhubung secara spiritual dalam menampilkan tanda-tanda Tuhan. Demikian, diri manusia secara potensial ilahiah mampu mengenali Tuhan, sebab apa yang terhampar di alam semesta sesungguhnya juga hadir dalam diri manusia.
Insan Kamil adalah manusia yang mampu mengenali (tajalli) Allah dan (potensi) dirinya. Kedua, sebagaimana diurai apik oleh Seyyed Hossein Nasr dalam esaiKosmos dan Tatanan Alam (dalam Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam), spiritualitas islam dan pengembaraan batin manusia tidak hanya sebatas pada pembacaan atas kitab suci Al-Quran tertulis tapi juga pada pembacaan Al-Quran Kosmis.
Spiritualitas islam, khususnya tasawuf, memandang alam semesta (kosmos) murni sebagai pengejawantahan dari asmaul husna, sebuah sistem yang menunjukkan keterhubungan (sunnatullah dan hukum alam) yang sejatinya menggambarkan tauhid itu sendiri. Dus, nama-nama dari asmaul husna menunjukkan (bukti) kehadiran Tuhan di alam semesta.
Dan nama Allah, nama pertama dari asmaul husna, sebagaimana tafsiran imam Al Ghazali dalam kitabnya Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna, menjadi nama untuk wujud sejati, wujud (esensi) yang mempersatukan sifat-sifat ilahiah yang ditunjukkan nama-nama asmaul husna lainnya. Dengan demikian maka dua larik penutup puisi Allah, Allah amatlah tepat :
Kecuali saudara kita
Yang jujur memandang cakrawala
Bahwa hanya manusia yang jujur membaca cakrawala alam yang akan mampu mengenali Allah. Kata jujur merujuk juga kepada sikap sadar diri akan keterbatasan manusia dalam membaca diri dan kosmos, sekaligus kesadaran manusia akan jagat alit diri manusia yang sesungguhnya juga merupakan lokus dari tanda-tanda Tuhan.
Manusia yang gagal menemukan tuhan, atau tersesat, dan tertipu mengejar bayangan hampa dari jumlah berjuta, bermilyar, dan bahkan trilyunan, hendaknya berefleksi menjenguk Tuhan di kedalaman diri dan di cakrawala. Di sanalah asma-asma Tuhan, sifat-sifat Tuhan menampak. Dengan demikian puisi pertama Allah, Allah secara tepat membuka syair-syair berikutnya dari Asmaul Husna.
Pada puisi kedua, Emha Ainun Nadjib mengingatkan manusia akan asma dan sifat Ar Rohmaan (Maha Pemurah). Mbah Nun agaknya memiliki alasan sendiri dengan penulisan “Ar Rohmaan” dan bukan “Al-Rahman”. Di sisni, penyair memilih symbol matahari, cahaya, dan gulita, untuk menyentil manusia yang kerap lupa akan karunia Allah (Padahal alam senyatanya bukti bahwa Allah Maha Pemurah). Karunia nikmat dan rakhmat Allah sedemikian melimpahnya melingkupi kita manusia, bahkan menenggelamkan manusia.
Di siang benderang Matahari luput dari ingatan Sebab hanya di gulita malam Kau dambakan pencahayaan
Dan lagi, seperti pada puisiAllah, Allah Penyair menyaran kepada pembaca untuk berefleksi kepada alam, Tataplah/ Bumi langit cinta-Nya!, agar tidak lupa akan Allah yang melimpahi rahmat dan karunia kepada alam semesta, siapa saja, baik manusia hewan maupun tumbuhan, maupun makhluk tak kasat mata. Ungkapan Mbah Nun ini jumbuh dengan pemahaman kaum sufi yang, khususnya Ibnu ‘Arabi, yang meyakini Nafas Ar-Rohmaan-lah yang menyebabkan terjadinya kehidupan (di) alam semesta.
Meski demikian penyair juga paham jika (boleh jadi) kealpaan manusia akan sifat kasih-Nya justru karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Katanya, Maka alpa kita/ Akan kasih-Nya/ Justru karena tak pernah/ Ia meninggalkan kita! Dari itu, penyair menyadari bahwa sembahyang ternyata sebaik-baik zikir pengingat Allah ar Rohmaan. Hanya sujud yang bisa menciptakan jarak rohani (untuk kemudian dapat melihat dan menilai) dari dunia maya. Katanya di akhir puisi:
Hanya sujud, sungguh Hanya sujud Mengambil jarak rohani dari dunia maya.
Tak lengkap pembacaan kita atas nama Ar-Rohmaan tanpa pembacaan Ar-Rohiim, Maha Penyayang. Dua nama itu lazim diucap serangkai dalam lafaz basmallah. Jika Ar-Rohmaan bersifat luas universal, maka Ar-Rohiim bersifat khusus. Dalam kitab yang tadi telah disinggung, Imam Ghazali menyebut, Ar-Rohmaan dekat dengan nama Allah Ta’ala, meskipun berasal dari dari kerahiman. Itulah mengapa untuk itu Allah menyandingkan kedua kata itu dalam Surat Al-Isra’ ayat 110: Serulah Allah atau serulah Ar Rohmaan, yang manapun yang engkau seru, milik-Nyalah nama-nama paling indah (asmaul husna).
Tuhan Ar-Rohmaan menciptakan alam semesta, merahmati seluruh makhluk, tanpa kecuali. Tepat sekali Mbah Nun menggunakan diksi alam (matahari, bumi), ruang dan waktu dalam puisi Ar-Rohmaan. Sedang Tuhan Ar-Rahiim, mengasihi makhluknya yang menginsyafi dan mensyukuri rahmat-Nya. Hamba Ar-Rahiim adalah ia yang bersyukur atas rahmat Tuhan, baik yang bersifat jasmani maupun ruhani, sehingga kemudian ia menjaga diri dengan melakukan kebajikan. Ia menghayati kenyataan, Tuhan menyayangi dan mengasihinya.
PuisiAr-Rohiim menukik ke dalam diri manusia, mengingatkan kehambaan, kebergantungan manusia. Mbah Nun mengingatkan kita pada kodrat kebutuhan kita akan rahmat dan kasih Allah. Penyair mengingatkan, tidak setiap orang mengetahui, bahwa/ jauh di dalam jiwanya, setiap hari bergaung/ selaksa doa tanpa kata. Di bagian lain ia menulis, Selaksa doa yang diam, selaksa pengharapan bisu/ diucapkan oleh kesunyian:/ Allah Maha Meniti dan Mendengarkan, kasihnya tak terumuskan. Mbah Nun melukiskan hamba yang mengenal Ar-Rohiim sebagai mereka yang menginsyafi kebutuhan-kebutuhan hidup dengan memanjatkan doa akan permintaan-permintaan tambahan. Padahal sejatinya hidup makhluk telah dijamin, hanya saja manusia alpa menyadarinya. Meski begitu, segera Penyair menunjukkan paradoks:
“Kenapakah saudaraku -- demikian engkau mengatakan -- kenapakah selalu hanya kita ingat satu di antara seribu : yakni anugrah yang ditunda, atau ia balik warna kejadiannya -- sedang dengan itu kita diajari bagaimana membaca rahasia?”
Penyair memahami, manusia cenderung alpa akan karunia Tuhan yang melimpah-ruah, namun justru terpaku mengingat dan mengungkit anugrah yang masih belum terwujud, masih tertunda. Meski, inilah yang menjadi alasan bagi manusia untuk meminta, berdoa, belajar membaca rahasia dan seterusnya berkarib dengan Tuhan. Hanya manusia hamba Ar-Rohiim, yang dikasihi, yang akan memperoleh “anugrah yang tertunda” sebagai pengungkapan rahasia dari Allah Tuhan Ar-Rohiim.
Di atas, saya telah coba mendedah sedikit dari ‘Syair-syair Asmaul Husna’. Demikian, Emha Ainun Nadjib atau Mbah Nun, seolah membentangkan cakrawala baru dari nama-nama Tuhan, mengingatkan kita akan aspek-aspek dan timbangan-timbangan yang terlupa, meski sejatinya merupakan bagian, dari realita keseharian kita. Ia mengajak pembaca mengakrabi Tuhan dan diri kita lewat puisi-puisinya.
Puisi-puisi dalam ‘Syair-syair Asmaul Husna’ berikhtiar menunjukkan bahwa 99 nama Tuhan dalam asmaul husna relevan dengan problematika kehidupan keseharian kita. Mbah Nun mengingatkan kita bahwa Tuhan Allah itu karib dengan (kehidupan) manusia, sekaligus kadang juga menampakkan kepada kita keagungan-Nya. Dari itu semua, hanya dengan mencoba meniru sifat-sifat Tuhanlah kita manusia bisa mengenali-Nya. Menjadi hamba-Nya.
Muntilan, April 2025
Bacaan:
- Menyingkap Yang tersembunyi, Misteri Tuhan dalam Puisi-puisi Mistis Islam, penulis Annemarie Schimmel, penerbit Mizan, cetakan 1, April 2005
- Trilogi Islam, Iman, Islam, dan Ihsan, penulis Sachiko Murata dan William C. Chittick, penerbit Srigunting, Tahun 1997.
- Al-Asma Al-Husna, Rahasia Nama-nama Indah Allah, terjemahan atas kitab Al-Maqshad Al-Asna fi Syarh Asma’ Allah Al-Husna, penulis imam Ghazali, penerbit Mizan, cetakan I, Oktober 1995.
Agus Manaji,
Guru SMK di Kota Yogyakarta. Lahir pada 16 Maret 1979.
Kumpulan puisi tunggalnya ‘Seperti Malam-malam Februari’ (2018). Artikel ilmiahnya dimuat di sejumlah. Sejumlah puisi dan esainya bisa ditemui di beberapa media cetak maupun online.