Esai ‘Retorika dalam Satire Ajo Sidi’
Ranang Aji SP
A.A. Navis menulis cerpen berjudul "Robohnya Surau Kami" (1955) dan berhasil mendapatkan banyak pujian karena muatan satirenya yang dianggap mampu membuka mata masyarakat tentang perilaku beragama. Muatan satirenya terutama diletakkan dalam cerita bingkai yang diceritakan oleh tokoh Ajo Sidi melalui protagonis cerpen itu, yaitu seorang garin yang biasa dipanggil sebagai kakek.
Dalam esai ini, saya hanya mengambil dongeng bingkai itu untuk melihat gaya satire yang dikembangkan Navis, terutama bagaimana Navis mengolah retorikanya. Retorika sendiri adalah seni untuk mempersuasi khayalak. Satire, pada dasarnya tidak selalu ditulis sebagai puisi seperti tradisi di zaman Yunani dan Romawi, seperti Horace atau Juvenal. Dalam perkembangan setelah masa Horace, satire juga ditulis dalam bentuk prosa, seperti dilakukan oleh Francois Rabelais, Voltaire atau Jonathan Swift.
Swift, misalnya, menulis satire dalam bentuk novel berjudul Gulliver's Travels (1726) dengan memadukan kisah perjalanan Luwene Gulliver, seorang dokter bedah di kapal dengan bentuk fantasi dan parodi untuk menyindir moral masayarakat dan politik di Eropa. Demikian pula dengan Navis dalam cerpennya. Dalam dongeng yang sifatnya fantasi dan parodi itu karena Navis mengambil persitiwa yang bersumber dari kitab suci, Ajo Sidi membuka dengan eksposisi latar peristiwa di dunia akherat, di mana Tuhan membuat pengadilannya.
Dalam parodi itu, tokoh utamanya, Haji Saleh menjadi simbol atau merepresentasikan para orang saleh yang merasa dirinya paling saleh di dunia. Dalam paragraf awal ini, Ajo Sidi memperkenalkan tokoh utamanya ‘Haji Saleh' sebagai simbol yang secara satire bermakna orang yang mewakili 'kesombongan' karena merasa orang yang paling beriman. Makna itu kemudian diperkuat dengan tindakannya dalam baris kalimat:
"...Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’..."

















