Esai ‘Kearifan Makan dalam Puisi’
S. Prasetyo Utomo
KEARIFAN makan yang ditulis penyair dalam puisi membuka banyak tafsir pembaca. Kegiatan makan tak sekadar menjadi pemenuhan rasa lapar. Makan bisa saja bermakna sosial, politik, dan transenden.
Saya memilih 5 puisi yang dicipta penyair dari lintas ruang-waktu. Lima puisi ini dicipta dengan berbagai sudut pandang yang otentik.
Kelima puisi itu adalah ‘Mulai dengan Lapar’ karya Sides Sudyarto D.S., ‘Kucing, Ikan Asin dan Aku’ karya Wiji Thukul, ‘Miskin Desa, Miskin Kota’ karya Taufiq Ismail, ‘Lagu Orang Kalah’ karya D. Zawawi Imron, dan ‘Doa Syukur Sawah Ladang’ karya Emha Ainun Najib.
Ketajaman intuisi menjadi kekuatan para penyair untuk menyingkap kearifan makan dalam dialektika sosial kekuasaan, dan transendental.
Dengan kekuatan intuisi, kelima penyair ini mencipta kompleksitas makna makan dalam setiap pergolakan zaman. Berkembanglah tafsir puisi tentang kearifan makan yang memiliki berlapis-lapis makna.
Saya terkesima dengan pandangan otentik penyair untuk mengembangkan estetika yang membuka pengalaman tersembunyi tentang pergolakan jiwa manusia dalam mencari makan.
***
Puisi ‘Mulai dengan Lapar’ karya Sides Sudyarto D. S., menyingkap segala kedok perilaku agitasi manusia untuk mempertahankan hidup, karena rasa lapar. Manusia berusaha memenuhi kebutuhan makan. Perilaku suka mengemis untuk memenuhi kebutuhan makan.
Begitu juga kebutuhan makan mendorong manusia untuk berhutang, berbohong, dan menipu orang lain. Kelaparan berakibat perilaku destruktif. Pemenuhan kegiatan makan berpeluang mengakhiri tindak kejahatan manusia yang merugikan orang lain, seperti petikan berikut ini:
Mulai dengan lapar kita berjalan. Mulai dengan/ lapar kita mengemis, Mulai dengan lapar kita meminta-minta/ Mulai dengan lapar kita meminjam. Mulai/ dengan lapar kita berhutang. Mulai dengan lapar kita membohong/ mulai dengan lapat kita menipu//.
Dalam larik puisi selanjutnya dikisahkan kelaparan mendorong tindakan untuk bercerai dengan orang yang dicintai, menyerang, memfitnah, mencaci, menodong, memberontak, menindas, bahkan membinasakan.


















