Ilustrasi - Ki Nartosabdo, seniman yang lahir di Klaten pada 25 Agustus 1925 yang berkiprah dan menyandang nama besar di Semarang. (Foto: Istimewa).
DI MALAM anggoro kasih, Dewan Kesenian Semarang (Dekase) menggelar peringatan 100 tahun Ki Nartosabdo di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Meski tujuannya untuk memberikan penghormatan pada Ki Nartosabdo, namun acara tidak diselenggarakan di dalam gedung baru Ki Nartosabdo yang ada di TBRS.
Dekase menyelenggarakannya di joglo kecil di belakang gedung lama Ki Nartosabdo yang tengah dipugar. Pemerintah kota yang seolah cukup hanya memberi penghormatan seniman besarnya dengan penaman dua gedung di sebuah tempat yang disebut sebagai taman budaya.
Seniman yang lahir di Klaten pada 25 Agustus 1925 itu berkiprah dan menyandang nama besar di Semarang sehingga penghormatan atas kerja kreatif sang seniman merupakan hal wajib untuk dilakukan di kota ini. Tahun ini tepat 100 tahun kelahirannya.
Dewan Kesenian Semarang menggelar rangkaian acara seabad Ki Nartosabdo dengan nyekar dan tilik makam, pameran lukisan bertajuk “Mijil”, pembacaan puisi dan musikalisasi puisi, serta di acara puncak 7 Oktober 2025 ada peluncuran buku kumpulan puisi yang berisi 100 puisi dari 100 orang penulis untuk 100 tahun Ki Nartosabdo.
Usaha yang cukup sulit dalam pengumpulan 100 puisi. Banyak yang mengaku tidak lagi mengenal pemain gendang dan dalang yang kondang itu. Ia memang telah lama wafat pada 7 Oktober 1985. Namun sebetulnya karya-karya musiknya yaitu gending Jawa “gagrag anyar” dan lakon-lakon wayang purwo-nya masih bisa kita nikmati hingga saat ini.
Upaya pengumpulan puisi tentang Ki Nartosabdo menjadi langkah yang tepat untuk membuat warga Jawa Tengah yang ingin ikut memberi penghormatan dengan menulis puisi kembali melacak tulisan-tulisan atau referensi tentang .
Soenarto, nama aslinya, sebelum ia diizinkan ikut menyandang nama besar dari pimpinan Ngesti Pandawa, Sastrosabdo. Ia lahir dari pasangan Kantaruslan (nama setelah menikah: Partotinoyo) dan Kencur. Pada Intisari yang terbit bulan September 1976 ia mengaku: “menyesal tidak ingat kapan hari wetonnya menurut kalender Jawa.”
Pembaca majalah Intisari patut ragu mendengar penyesalan itu. Karena kita tahu, bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang yang menjalankan ritual laku kejawen. Pasti ia sangat tahu weton (hari lahir) dalam pasaran Jawa. Namun, orang Jawa percaya pada pengapesan atau saat terjadinya kesialan. Weton adalah hal yang harus dirahasiakan.
Karena bisa digunakan musuh untuk melancarkan serangan gaib atau supranatural seperti pelet bahkan santet. Ki Nartosabdo adalah dalang yang laris di masa itu. Sehingga bisa dipastikan tidak hanya mendapatkan banyak pemuja tapi pembenci pun jumlahnya tidak sedikit.
Soenarto dari kecil sudah akrab dengan dunia kesenian. Bapaknya seorang pengrawit yang biasa berperan sebagai wiraswara (vokalis pria), pemain gendang atau pemain gender. Tak heran jika jiwa kesenian sudah mengakar dan tumbuh pada diri Soenarto karena sering melihat ayahnya pentas ketika mengiringi pedalangan Ki Kondhodisono atau Ki Gondowarsono. Ia tumbuh sebagai anak wayang. Ia akrab dengan gamelan, pengrawit, sinden, dalang, blencong, dan kelir.
Tidak banyak referensi yang bicara tentang Ki Nartosabdo secara utuh. Sumanto (2002) dalam buku Kehadirannya dalam Dunia Pedalangan sangat membantu saya untuk mengerti biografi, dunia, dan laku Ki Nartosabdo. Hidupnya yang miskin sebagai anak seorang pengrawit, memaksa Soenarto ikut bekerja sedari kecil. Ia yang sudah menguasai permainan rebab, gendang, dan gender sejak tahun 1936 itu memilih ikut rombongan wayang wong Sri Cahyamulya.
Namun, ternyata dalam wayang wong tersebut ia hanya mendapat tugas memainkan gong dengan bayaran yang sangat kecil. Kemudian, ia pindah menjadi pemain gendang Ki Pujdosumarto. Selain bermain gendang, ia harus ikut terlibat dalam menyiapkan ubo rampe pementasan wayang kulit meskipun sebetulnya ia sangat malas melakukannya. Namun, akhirnya ia semakin mengenal seni pedalangan karena sering mengamati Ki Pujdosumarto saat mementaskan wayang kulit.
Perjalanan kesenian yang sedari usia 11 tahun itu ia lakoni, membuat ia mampu bertumbuh dengan matang dalam dunia kesenian. Ia tidak lelah belajar dan terus konsisten berkesenian. Hingga dewasa ia berganti-ganti kelompok wayang wong, kethoprak, atau wayang kulit. Ia tahu beratnya hidup dalam kesenian. Ia biasa tampil kumal dengan baju yang hanya 1 setel. Namun, ia juga tahu cara berfoya-foya sebagai seniman yang telah selesai tanggapan dengan berbagai hal duniawi, salah satunya dengan bermain perempuan.
Ketika namanya mulai dikenal sebagai pemain gendang kethoprak Sriwandawa, saat itulah pimpinan Ngesti Pandawa, Sastrosabdo, memesan kursi paling depan untuk melihat kepiawain pemain gendang itu. Tanpa berpikir panjang, ia mengajak Soenarto untuk bergabung dengan Ngesti Pandawa.
Tidak tanggung-tanggung, Sastrosabdo bahkan rela melunasi seluruh utang Soenarto pada kethoprak Sriwandawa. Meski demikian, ternyata kita bisa melihat bahwa Soenarto adalah sosok lelaki yang nakal juga. Ia justru menggunakan uang dari Sastrosabdo untuk bersenang-senang. Di sinilah pembaca buku Sumanto mengetahui kecintaan Sastrosabdo pada Soenarto: “Sastrosabdo pimpinan Ngesti Pandawa menyatakan, bahwa Soenarto ditukar dengan bangunan tidak permanen bekas panggungnya yang ditinggalkan di Klaten.” Begitulah berharganya Soenarto dimata Sastrosabdo
Meskipun sangat mengasihi Soenarto, Sastrosabdo terus menggembleng dan mendidik Soenarto agar menjadi sosok kaliber dalam kesenian. Majalah Intisari yang terbit pada September 1976 menuliskan: “Pak Sastro menunjuk pada sebuah gendang ukuran sedang di pojok kamarnya. Bentuknya, bahannya maupun kualitas suaranya, sama sekali tidak istimewa.” Ternyata Soenarto bisa membuktikan kepiawaiannya sebagai pengendang maut dengan menggunakan kendang itu. Gendang itu diberi nama “Kyai Rejeki.”
Dalam liputan khusus itu, diceritakan bahwa gendang itu di taruh di sebelah tempat tidurnya. Masyarakat Jawa mengenal istilah menayuh (ilmu tayuh untuk mengetahui isi khodam, menentukan kecocokan khodam dengan pemilik). Biasanya ini berlaku untuk barang pusaka agar menyatu antara khodam dan pemilik pusaka. Artinya Soenarto menganggap Kyai Rejeki ini sebagai benda pusaka baginya. Setelah moncer sebagai pengendang, ia bahkan mampu memainkan 7 buah gendang sekali pukul.
Selain bakat seni yang ia miliki, peran besar Sastrosabdo yang membuat Soenarto menjadi pengendang maut. Sastrosabdo rela membayar honorarium guru yang mengajari musik pada Soenarto sehingga ia bisa menguasai unsur seni daerah Surakarta, Yogyakata, Pasundan, Banyumasan, Semarang, Surabaya dan Bali. Oleh karena itu, tidak heran jika Soenarto sangat produktif dalam menghasilkan gending Jawa gagrag anyar dengan kualitas yang ciamik.
Sastrosabdo kemudian mengizinkan Soenarto untuk menggarap lakon wayang wong Ngesti Pandawa dan diangkat sebagai saudara oleh Sastrosabdo. Soenarto pun akhinya menggunakan nama Nartosabdo. Karena keberhasilannya dalam menggarap lakon wayang wong akhirnya Sastrosabdo mendorong Nartosabdo untuk mendalami pedalangan wayang kulit. Sekali lagi, ia menyuruh Nartosabdo untuk tidak berhenti belajar. Sejak saat itulah Nartosabdo mulai belajar pakem, budaya, dan sabet (menggerakkan wayang). Ia nyantrik di bawah bimbingan Ki Gitotjarito dan Ki Pudjosumarto. Selain itu, ia juga membaca buku-buku tentang pewayangan.
Laku kejawen juga dilakukan oleh Nartosabdo. Seperti puasa mutih, kungkum, ziarah ke makam keramat, dan laku brata lainnya.Ia bahkan rela tidak menyentuh istrinya selama 2 tahun demi menjalani tapa sebagai dalang wayang kulit. Ia sungguh-sungguh berusaha menguasai 7 keterampilan mendalang yaitu mardawalagu (paham lagu karawitan gending dan tembang), amardibasa (dapat membedakan bahasa cakapan tokoh wayang), awicarita (menguasai cerita yang digunakan dalam pedalangan), paramakawi (memahami bahasa Kawi untuk menjelaskan padanan kata), paramasastra (tidak buta aksara), renggep (pedalangannya bersemangat dan tidak kendur), sabet (terampil menggerakkan wayang). Usahanya tidak sia-sia, Ki Nartosabdho panen tepuk tangan saat mementaskan lakon Kresna Duta di RRI pada 28 April 1958.
Menjadi seorang maestro seperti Ki Nartosabdo tidaklah mudah. Harus mau dan mampu ditempa oleh keadaan. Tidak takut dan tidak mudah menyerah dalam belajar. Berani menjalani laku hidup yang berat. Semua demi konsisten dalam belajar dan berkarya. Selain itu, kita juga bisa membaca pesan dari Ki Nartosabdho yang disampaikan pada Intisari : “Hidup seorang seniman itu bagaikan nyala sebuah lilin. Hidup buat memberi terang kepada orang lain, sementara itu dirinya sendiri sedikit demi sedikit habis dan bisa mati sendiri.” Ki Nartosabdo bukanlah seniman yang egois. Ketika menjadi dalang ia memperhatikan nasib orang-orang yang bekerja bersamanya. Ia menyadari setiap rezeki dalang merupakan hasil keringat dari pesinden dan pengrawit, serta kru panggung lainnya.
Kini di tahun 2025 Ki Nartosabdo telah membuktikan bahwa semangatnya dalam belajar, konsitensinya dalam berkesenian, serta produktifitas yang tinggi dalam berkarya membuat ia sangat layak menyandang gelar maestro. Meskipun ia telah lama tiada, kita masih bisa mendengarkan gending-gending ciptaannya: Swara Suling, Ketawang Pucung Wuyung, Lumbung Desa, Bayangan, Kombang, Sampur Ijo, Aja Lamis, dan lain-lain. Selain itu, rekaman suara permainan wayangnya bahkan masih bisa kita simak di Youtube. Ki Nartosabdo berhasil mengawinkan gagrag Surakarta dengan gagrag Yogyakarta dalam pementasan wayang kulitnya. Kini sangat banyak dalang yang mengikuti gaya pedalangan Ki Nartosabdo. Cahaya lilin yang ia pancarkan tidak padam meski telah menyala hingga 100 tahun sejak kelahirannya.