JAKARTA, (ERAKINI) – Kasus kanker serviks di Indonesia tinggi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebut, diperkirakan lebih dari 36.000 kasus baru yang terdeteksi setiap tahun.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono menyampaikan keprihatinan atas tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia. Hal itu disampaikan dalam diskusi bertajuk ‘Reafirmasi Komitmen Eliminasi Kanker Serviks’.
Menurutnua, kanker serviks saat ini merupakan jenis kanker terbanyak kedua di Indonesia. Setiap tahun, diperkirakan terdapat lebih dari 36.000 kasus baru yang terdeteksi. Ironisnya, sekitar 70 persen dari kasus tersebut baru diketahui pada stadium lanjut, sehingga meningkatkan risiko kematian secara signifikan.
“Harapan saya, diskusi ini bisa membuka sudut pandang baru, melahirkan solusi, serta memperkuat kolaborasi lintas sektor, baik pemerintah, swasta, praktisi, maupun masyarakat luas,” kata Dante dikutip dari laman resmi Kemenkes, Senin (28/4/2025).
Dante menyebut bahwa rendahnya angka deteksi dini menjadi salah satu penyebab utama tingginya kematian akibat kanker serviks. Untuk itu, pemerintah menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai prioritas, melalui program vaksinasi HPV dan pemeriksaan skrining secara berkala.
Adapun Kementerian Kesehatan saat ini telah menyusun Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks. Strategi ini mencakup 3 pilar utama, yaitu:
1. Anak perempuan dan laki-laki usia 15 tahun ditargetkan memperoleh vaksinasi HPV.
2. Perempuan usia 39 tahun diharapkan menjalani skrining HPV DNA.
3. Perempuan dengan kanker serviks invasif harus mendapatkan penatalaksanaan yang sesuai standar medis.
“Jika ketiga pilar ini dijalankan secara komprehensif dan terkoordinasi, saya optimis kita dapat menurunkan angka kematian dan mencapai eliminasi kanker serviks di seluruh Indonesia,” kata Wamenkes.
Layanan skrining HPV DNA, mulai tahun 2025 ini akan diintegrasikan dalam program pemeriksaan kesehatan gratis. Diharapkan, kebijakan ini dapat memperluas jangkauan deteksi dini dan mencegah berkembangnya penyakit ke stadium lanjut.
Namun demikian, kata dia, tantangan geografis yang kompleks masih menjadi hambatan, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan yang belum memiliki akses layanan kesehatan memadai.
Sebagaimana siaran pers dari Biro Komunikasi dan Informasi Publik, Kementerian Kesehatan akan membangun laboratorium pendukung di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia sebagai solusi atas hal tersebut. Laboratorium ini akan mempercepat diagnosis kanker serviks, terutama di fasilitas kesehatan yang belum memiliki sarana memadai.
“Evaluasi menyeluruh di tingkat Puskesmas juga akan dilakukan, agar pemeriksaan kanker serviks dapat menjadi layanan rutin yang efektif, mudah diakses, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” demikan pernyataan dari pihak Kemenkes.