Prospek Ekonomi Global Masih Suram, BI Pertahankan BI-Rate 5,75%
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Bank Indonesia (BI) memperingatkan prospek perekonomian global masih lemah dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. Eskalasi konflik di Timur Tengah, tingginya harga minyak dan komoditas dunia, serta potensi berlanjutnya kebijakan moneter ketat Amerika Serikat menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi global.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diprakirakan hanya mencapai sekitar 3%, sementara tekanan inflasi masih tinggi di kisaran 4,6%.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh makin kuatnya tensi perang di Timur Tengah, sehingga mendorong tetap tingginya harga minyak dan berbagai komoditas dunia,” kata Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Destry, tekanan eksternal juga bersumber dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang ketat dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer. Bahkan, peluang kenaikan kembali suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve, atau Fed Funds Rate (FFR) masih menjadi perhatian pasar.
Di sisi lain, imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) bertahan tinggi. Kondisi ini sejalan dengan ekspektasi arah kebijakan moneter AS serta membengkaknya defisit anggaran pemerintah negara tersebut.
Situasi tersebut memperkuat daya tarik dolar AS dan membatasi aliran investasi portofolio ke negara-negara berkembang (emerging markets).
“Kondisi ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” ujar Destry.

















