Menggali Kesejatian (7): Distorsi Dakwah
Hamdan Juhannis
Salah satu aktivitasa keagamaan yang paling terdampak di era digitalisasi adalah dakwah. Meski dakwah secara offline masih menjadi tradisi umum, dakwah secara online di dunia media sosial jadi sangat masif. Bahkan, dakwah digital merambah ke penjuru ruang tanpa batas.
Sebelum menguat arus digitalisasi, kita hanya mengenal pendakwah melalui mimbar atau model halaqah. Kita berlomba ke masjid, khususnya di bulan Ramadan untuk menyimak ceramah dai idola.
Tidak jarang mendengar cerita ada jamaah mengikuti masjid mana lagi ustad idolanya itu berceramah. Penceramah yang tahu bahwa mereka "dibuntuti" oleh beberapa jamaah, jadi pusing karena ternyata bahan ceramahnya tetap sama di masjid-masjid sebelumnya. Pada masa ini, pengkopian ceramah dilakukan dengan kaset.
Zaman bergerak memasuki masifnya teknologisasi informasi, dakwah menjadi program televisi. Ceramah Da'i terkenal mulai direkam ke dalam compac disc (cd), digital versitile disc (dvd) lalu berkembang lagi menjadi flaskdisk yang lebih simpel dan memiliki daya muat yang lebih besar. Dunia dakwah mulai memasuki era selebrasi, "kaset dan cdnya sudah beredar".



















