Warga Palestina dari Kota Gaza bergerak ke selatan sambil membawa barang-barang mereka, di jalan pesisir dekat kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah, pada 19 September 2025. (Foto: AFP).
WASHINGTON, (ERAKINI) - Seiring eskalasi situasi kemanusiaan di Gaza, semakin banyak warga di Amerika Serikat yang menilai tindakan militer Israel sudah melewati batas. Demikian hasil jajak pendapat terbaru yang menunjukkan perubahan signifikan dalam opini publik AS terhadap perang di .
Menurut survei dari The Associated Press‑NORC Center for Public Affairs Research, hampir separuh warga Amerika kini menyebut bahwa respons militer Israel di Jalur Gaza adalah “terlalu ekstrem”. Persentase ini naik dari sekitar 40% pada November 2023, periode tak lama setelah serangan awal terhadap Israel tanggal 7 Oktober 2023.
Meskipun demikian, mayoritas terutama di kalangan Partai Republik tampaknya tidak menjadikan gencatan senjata sebagai prioritas tinggi bagi kebijakan luar negeri AS, berbeda dengan beberapa bulan silam ketika AS aktif mendorong perundingan untuk menghentikan permusuhan antara Israel dan Hamas.
Pergeseran sikap publik ini terjadi bersamaan dengan dimulainya operasi darat Israel yang semakin meluas di Kota Gaza. Israel kini mendapatkan kecaman internasional yang makin keras; kelompok ahli independen dari Dewan HAM PBB bahkan menyimpulkan adanya indikasi bahwa Israel melakukan tindak genosida.
“Tingkat penderitaan perempuan dan anak-anak tak berdosa ini tak bisa dibenarkan,” kata Renee Hollier dari Louisiana, seorang ibu dan warga independen. “Tak ada alasan untuk membiarkan penderitaan seperti ini terus berlangsung.”
Survei juga menunjukkan bahwa kritik terhadap tindakan Israel sekarang melibatkan lebih banyak pihak lintas garis politik:
Di antara Demokrat, sekitar 70% setuju bahwa respons militer Israel sebelumnya dan sekarang sudah terlalu jauh, naik dari 58% di survei November 2023. Responden independen meningkat dari sekitar 40% ke sekitar 50% yang menganggap tindakan Israel berlebihan. Di kubu Republik, meskipun perubahan lebih kecil, ada kenaikan dari 18% menjadi sekitar 24%.
Di sisi lain, kebutuhan untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Gaza terus dianggap penting — hampir setengah responden menyebut ini sebagai prioritas. Proporsi ini sedikit lebih tinggi dibanding periode sebelumnya, menunjukkan simpati publik terhadap korban.
Beberapa warga tetap mendukung tujuan Israel melawan Hamas, tetapi disertai kekhawatiran bahwa konflik ini bisa menjadi perang tanpa akhir. “Bukan semua di Gaza adalah musuh,” ujar Miguel Martinez dari Florida. “Mereka butuh bantuan, bukan hanya destruksi.”
Di kalangan Demokrat juga makin tampak dukungan agar AS mendukung pembentukan negara Palestina merdeka sebagai bagian dari solusi jangka panjang — sebuah pandangan yang belum banyak diadopsi oleh Republik dan independen.
Sementara itu, dukungan untuk bantuan militer AS kepada Israel mengalami penurunan tajam terutama di Partai Demokrat; dari sekitar sepertiga pendukung pada awal konflik menjadi jauh lebih kecil sekarang.
Kekejaman terhadap warga sipil yang semakin terlihat — dari korban anak-anak, wanita, hingga penghancuran infrastruktur — membuat publik melihat bahwa operasi militer Israel bukan lagi hanya soal strategi, tetapi menghadirkan biaya kemanusiaan yang tak bisa diabaikan.
Perluasan operasi darat dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan memperburuk persepsi bahwa tindakan Israel sudah melewati batas hukum internasional dan hak asasi manusia. Media dan organisasi HAM internasional semakin banyak melaporkan dugaan pelanggaran hukum perang — dari serangan terhadap rumah sakit hingga evakuasi paksa — hingga muncul sebutan genosida, yang mendorong kesadaran publik di luar Israel dan Palestina.
Survei ini menunjukkan bahwa publik Amerika, baik Demokrat, independen, maupun sebagian Republik, makin mempertanyakan legitimasi tindakan militer Israel di Gaza. Kritik terhadap kekerasan Israel, dorongan untuk prioritas bantuan kemanusiaan, serta dukungan terhadap solusi politik bagi Palestina kini makin menguat.
Dengan berkembangnya simpati global terhadap penderitaan warga Gaza dan tekanan hukum/etika internasional, Israel kini menghadapi bukan hanya perlawanan di medan konflik, tetapi juga perlawanan opini publik dan moralitas internasional.