Korban Tewas di Gaza Tembus 65.000 Lebih, Israel Terus Menggempur, Jutaan Warga Palestina Mengungsi
Akhmad Baihaqi Arsyad







Sementara itu, serangan udara brutal memutus layanan telekomunikasi, menyulitkan warga Palestina mengakses bantuan medis dan menghubungi keluarga mereka. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban tewas akibat agresi Israel telah melampaui 65.000 jiwa, dengan lebih dari 165.000 orang terluka sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Mayoritas korban adalah warga sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai organisasi hak asasi manusia internasional menganggap data ini kredibel.
Kota Gaza Dihujani Bom, Layanan Kemanusiaan Lumpuh
Militer Israel mengklaim telah melakukan lebih dari 150 serangan udara hanya dalam beberapa hari terakhir, menyasar gedung-gedung tinggi dan kawasan pengungsian padat. Mereka menuduh bangunan tersebut digunakan oleh kelompok perlawanan Palestina. Namun, bukti-bukti independen sulit diverifikasi karena pemadaman total komunikasi di wilayah tersebut.
Layanan internet dan telepon terputus, menyisakan warga Gaza dalam keterisolasian total. Mereka tidak bisa memanggil ambulans, mengoordinasikan evakuasi, ataupun mengabarkan kondisi keluarga mereka ke luar wilayah.
Serangan udara semalam menewaskan sedikitnya 16 warga sipil, termasuk ibu dan anaknya di kamp pengungsi Shati, serta seorang perempuan hamil di kamp Nuseirat. Di wilayah Khan Younis, satu keluarga yang terdiri dari dua orang tua dan anak mereka tewas setelah tenda mereka dihantam bom.
Rumah Sakit Anak Rantisi di Kota Gaza juga menjadi sasaran serangan udara Israel pada Selasa malam. Kementerian Kesehatan Gaza merilis dokumentasi kerusakan yang menunjukkan atap rumah sakit yang runtuh dan puing-puing berserakan di lorong-lorong. Akibat serangan tersebut, lebih dari setengah dari sekitar 80 pasien harus dievakuasi dalam kondisi darurat. Sekitar 40 pasien masih tertahan di rumah sakit, termasuk empat anak dalam perawatan intensif dan delapan bayi prematur, bersama puluhan tenaga medis yang enggan meninggalkan pasiennya.
“Serangan ini kembali membuktikan bahwa tidak ada tempat aman di Gaza. Rumah sakit pun menjadi target pembantaian," tegas Fikr Shalltoot, Direktur Gaza untuk Medical Aid for Palestinians.
Genosida di Depan Mata, Warga Palestina Terusir dari Tanah Sendiri
Serangan Israel telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur Gaza dan memaksa lebih dari 90 persen penduduk untuk mengungsi. Para ahli menyebut kondisi di Kota Gaza sebagai bencana kelaparan, dengan akses terhadap makanan, air bersih, dan layanan medis sangat terbatas.
Israel mengklaim telah membuka koridor evakuasi menuju selatan, namun laporan dari lapangan menunjukkan bahwa banyak warga tidak memiliki akses, kendaraan, atau bahkan jaminan keselamatan untuk berpindah. Di sisi lain, pemadaman komunikasi membuat ratusan ribu orang di wilayah utara terputus total dari dunia luar.
Diperkirakan masih ada ratusan ribu warga Palestina yang terperangkap di Kota Gaza, tanpa jaminan keamanan dan di bawah ancaman serangan yang bisa datang kapan saja.
Israel mengklaim bahwa operasi militer mereka menargetkan “infrastruktur militan,” namun kenyataannya, mayoritas korban adalah warga sipil yang tidak bersenjata. Penyerangan terhadap rumah sakit, kamp pengungsian, dan jaringan komunikasi menunjukkan adanya pola penghancuran sistematis terhadap infrastruktur sipil yang vital.
Konflik ini bermula pada 7 Oktober 2023, saat kelompok perlawanan Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan membawa ratusan sandera. Namun, skala pembalasan Israel selama hampir setahun terakhir telah mengakibatkan kematian puluhan ribu warga Palestina dan kehancuran hampir total Gaza sebagai wilayah yang layak huni.
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza saat ini bukan sekadar konflik bersenjata, melainkan telah berkembang menjadi tragedi kemanusiaan global. Seruan demi seruan dari lembaga kemanusiaan dan hak asasi manusia agar dihentikannya serangan terhadap warga sipil terus digaungkan, namun hingga kini belum membuahkan hasil yang nyata.
Gaza kini tidak hanya menghadapi kehancuran fisik, tetapi juga penghapusan eksistensi sebuah bangsa. Jika dunia terus bungkam, tragedi ini akan tercatat dalam sejarah sebagai kegagalan kolektif umat manusia untuk menghentikan genosida yang terjadi secara terbuka.
