Serang Sekolah di Gaza, Tentara Israel Bunuh 33 Orang Termasuk Wanita dan Anak-anak
Thomas Pulungan







Menurut pejabat kesehatan setempat, korban tewas akibat serangan membabi-buta itu sedikitnya 33 orang, termasuk 12 wanita dan anak-anak. Ini merupakan jatuhnya korban massal terbaru di kalangan warga Palestina yang berusaha mencari perlindungan ketika Israel memperluas serangannya.
Pasukan Israel berulang kali menyerbu kembali wilayah Jalur Gaza yang sebelumnya mereka serang. Sehari sebelumnya, militer Israel mengumumkan serangan darat dan udara baru di Gaza tengah dengan klaim mengejar militan Hamas yang berkumpul kembali di sana.
Para saksi mata dan pejabat rumah sakit mengatakan serangan dini hari itu menghantam Sekolah al-Sardi, yang dijalankan oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA).
"Sekolah itu dipenuhi warga Palestina yang melarikan diri dari operasi dan pemboman Israel di Gaza utara," kata para saksi mata dilansir AP, Jumat (7/6/2024).
Korban dari serangan tersebut telah dibawa ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di dekat Deir al-Balah, yang sudah dipenuhi antrean ambulans sejak serangan di Gaza tengah dimulai 24 jam sebelumnya, kata Omar al-Derawi, seorang fotografer yang bekerja untuk rumah sakit itu.
Video yang beredar menunjukkan beberapa orang yang terluka dirawat di lantai rumah sakit. Listrik di sebagian besar rumah sakit padam, karena manajemen menjatah pasokan bahan bakar untuk generator.
“Anda tidak bisa berjalan di rumah sakit, ada begitu banyak orang. Perempuan dari keluarga korban berkumpul di lorong sambil menangis,” katanya.
Sekolah tersebut berada di Nuseirat, salah satu dari beberapa kamp pengungsi yang dibangun di Gaza sejak perang tahun 1948, awal pembentukan Israel ketika ratusan ribu warga Palestina melarikan diri dan diusir dari rumah mereka.
Rekaman video menunjukkan jenazah yang dibungkus selimut atau kantong plastik dibaringkan di halaman rumah sakit. Mohammed al-Kareem, seorang pengungsi Palestina yang berlindung di dekat rumah sakit, mengatakan melihat orang-orang mencari keluarga yang mereka cintai di antara mayat-mayat. Seorang wanita terus meminta pekerja medis untuk membuka bungkus mayat tersebut untuk melihat apakah putranya ada di dalam.
Rumah Sakit Martir Al-Aqsa awalnya melaporkan bahwa sembilan wanita dan 14 anak-anak termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan di sekolah tersebut. Kamar mayat rumah sakit kemudian mengubah catatan tersebut untuk menunjukkan bahwa korban tewas termasuk tiga wanita, sembilan anak-anak, dan 21 pria.
Belum jelas apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Seorang reporter Associated Press (AP) telah menghitung mayat-mayat tersebut tetapi tidak dapat melihat di balik kain kafan tersebut.
Ayman Rashed, seorang pria pengungsi dari Kota Gaza yang berlindung di sekolah tersebut, mengatakan bahwa rudal menghantam ruang kelas di lantai dua dan tiga tempat para keluarga berlindung.
“Saat itu gelap, tidak ada listrik, dan kami berjuang untuk mengeluarkan para korban,” kata Rashed yang membantu membawa lima orang korban tewas, termasuk seorang lelaki tua dan dua anak, salah satunya dengan kepala hancur. .
Juru Bicara militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari mengklaim serangan itu. Pihaknya melakukan serangan itu berdasarkan data intelijen, dimana militan Hamas merencanakan melakukan serangan dari dalam tiga ruang kelas. Dia mengatakan hanya kamar-kamar itu yang diserang.
“Kami melakukan serangan setelah intelijen dan pengawasan kami menunjukkan bahwa tidak ada perempuan atau anak-anak di dalam kompleks Hamas, di dalam ruang kelas tersebut,” katanya.
Hagari menyebut ada sekitar 30 militant Hamas di tiga ruangan tersebut. Pihaknya mengkonfirmasi pembunuhan sembilan dari mereka, dan menampilkan slide yang menunjukkan nama dan foto mereka. Tapi dia tidak memberikan bukti lain untuk mendukung klaim militer tersebut.
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini dalam sebuah postingan di X mengatakan bahwa 6.000 orang berlindung di sekolah tersebut ketika diserang tanpa peringatan sebelumnya. UNRWA tidak dapat memverifikasi klaim bahwa ada kelompok bersenjata di dalamnya.
Sekolah-sekolah UNRWA di Gaza telah berfungsi sebagai tempat perlindungan sejak perang Meletus Oktober tahun lalu, yang memaksa sebagian besar penduduk Palestina yang berjumlah 2,3 juta jiwa meninggalkan rumah mereka.
Pekan lalu, serangan Israel terjadi di dekat fasilitas UNRWA di kota selatan Rafah. Kebakaran melanda tenda-tenda di sekitar perumahan keluarga pengungsi, menewaskan sedikitnya 45 orang.
Kematian tersebut memicu kemarahan internasional, dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kebakaran tersebut adalah akibat dari kecelakaan tragis. Tentara Israel mengklaim kebakaran itu disebabkan ledakan sekunder.
Israel mengirim pasukan ke Rafah pada awal Mei dalam serangan terbatas, namun pasukan tersebut kini beroperasi di bagian tengah kota. Lebih dari 1 juta orang telah meninggalkan Rafah sejak dimulainya operasi. Mereka tersebar di Gaza selatan dan tengah ke tenda-tenda baru atau memadati sekolah dan rumah.
Israel melancarkan serangan militer di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 250 orang lainnya. Serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 36.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, yang tidak membedakan antara pejuang dan warga sipil.
Amerika Serikat telah mendukung gencatan senjata bertahap dan pembebasan sandera yang digariskan oleh Presiden Joe Biden pada pekan lalu. Namun pemerintah Israel mengatakan tidak akan mengakhiri perang sebelum menghancurkan Hamas. Bahkan anggota sayap kanan pemerintahan mengancam akan menjatuhkan koalisi jika Netanyahu menandatangani perjanjian gencatan senjata.
