Serangan udara besar-besaran Rusia di ibu kota Ukraina, Kyiv, menewaskan sedikitnya 21 orang. Foto: Reuters
KYIV, (ERAKINI) – Serangan udara besar-besaran Rusia di ibu kota Ukraina, Kyiv, menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk empat anak-anak, dan melukai puluhan lainnya.
Serangan yang terjadi pada Jumat (29/8) dini hari itu juga merusak kantor perwakilan (UE) di , sehingga memicu kemarahan para pemimpin Eropa.
Menurut pejabat Ukraina, Rusia menembakkan hampir 600 drone serta lebih dari 30 rudal balistik dan jelajah dalam serangan yang disebut sebagai yang terbesar terhadap Kyiv bulan ini.
Salah satu rudal menghantam blok apartemen lima lantai di Distrik Darnytskyi sekitar pukul 03.00 waktu setempat, menyebabkan bangunan runtuh dan menewaskan banyak warga sipil.
“Alat berat kami kerahkan untuk mengangkat puing, sementara tim penyelamat terus mencari korban selamat di reruntuhan,” kata pejabat layanan darurat Ukraina, dikutip BBC.
Tiga dari anak-anak yang tewas berusia 2, 14, dan 17 tahun. Sejumlah anak lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Ketua Komisi Uni Eropa, Ursula von der Leyen, mengecam keras serangan Rusia tersebut. Ia mengatakan dua rudal jatuh hanya sekitar 50 meter dari kantor delegasi UE di Kyiv dalam selang waktu 20 detik.
“Serangan ini menjadi pengingat kelam bahwa Rusia tidak akan berhenti meneror Ukraina, membunuh pria, wanita, dan anak-anak, bahkan menargetkan Uni Eropa,” ujar Leyen.
Uni Eropa menegaskan bahwa tidak ada misi diplomatik yang seharusnya dijadikan target serangan. Sebagai respons, UE memanggil kuasa usaha Rusia di Brussel.
Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin “merusak harapan perdamaian.” Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas menilai serangan tersebut sebagai “pilihan sengaja untuk meningkatkan konflik dan mengejek upaya perdamaian.”
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menegaskan Moskow telah memilih “rudal balistik ketimbang meja perundingan.” Ia kembali menyerukan penerapan sanksi internasional yang lebih keras terhadap Rusia.
“Serangan ini adalah balasan jelas dari Kremlin kepada semua pihak yang menyerukan gencatan senjata dan diplomasi nyata,” kata Zelensky.
Kemarahan juga datang dari Jerman. Kanselir Friedrich Merz menyebut Rusia telah kembali menunjukkan “wajah aslinya.” Menurutnya, fakta bahwa kantor UE turut menjadi sasaran menunjukkan semakin nekatnya Kremlin.
Di Inggris, Kementerian Luar Negeri turut memanggil Duta Besar Rusia Andrei Kelin untuk meminta penjelasan.
Infrastruktur Energi Lumpuh
Selain menghantam permukiman sipil, Rusia juga menyerang infrastruktur energi Ukraina. Lebih dari 100.000 rumah dilaporkan kehilangan listrik akibat serangan drone pada Rabu sebelumnya. Serangan terbaru juga memutus aliran listrik bagi 60.000 pelanggan di wilayah Vinnytsia, Ukraina tengah.
Militer Rusia mengklaim pihaknya turut menyerang kapal pengintai Ukraina Simferopol di muara Sungai Danube menggunakan kapal cepat tak berawak. Serangan itu menewaskan satu anggota kru dan melukai beberapa lainnya. Namun, militer Ukraina belum memberikan rincian mengenai lokasi pasti insiden tersebut.
Meski Kremlin mengklaim Rusia masih terbuka pada negosiasi damai, para pemimpin Eropa menyebut serangan ini menunjukkan sebaliknya.
“Rusia kembali memilih jalan perang. Tidak ada alasan untuk membenarkan serangan ke permukiman sipil maupun misi diplomatik,” tegas Leyen.