Seorang pria Palestina berjalan melewati gerbang yang didirikan oleh otoritas Israel di pintu masuk desa Sinjil, Tepi Barat, Selasa, 30 September 2025. (Foto: AP).
TEPI BARAT, (ERAKINI) - Seolah belum cukup menumpahkan darah di Gaza, rezim pendudukan Israel kini memperketat cengkeramannya di Tepi Barat, wilayah Palestina yang juga telah lama mereka duduki secara ilegal. Sejak pecahnya agresi militer terhadap Gaza lebih dari dua tahun lalu, Israel telah membangun hampir 1.000 baru, dari gerbang logam, tembok beton, hingga pos pemeriksaan bersenjata, yang kini mencekik kehidupan jutaan .
Menurut laporan resmi Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman, lembaga di bawah pemerintah Palestina, sedikitnya 916 titik penghalang dan gerbang besi didirikan sejak Oktober 2023, tepat setelah serangan Hamas terhadap wilayah Israel selatan yang memicu babak baru konflik mematikan.
“Jumlah penghalang ini belum pernah terjadi sebelumnya. Kini, bahkan untuk menempuh perjalanan 5 kilometer, warga harus menunggu berjam-jam atau berjalan kaki mengitari pos penjagaan,” ungkap seorang warga Ramallah yang enggan disebutkan namanya.
Warga menggambarkan situasi saat ini sebagai penjara raksasa tanpa atap. Hampir setiap kota dan desa kini dijepit oleh penghalang yang dikontrol militer Israel. Gerbang logam ditempatkan di pintu masuk utama kota, dan sering kali ditutup tanpa pemberitahuan.
Banyak warga terpaksa menginap di rumah kerabat karena tidak bisa kembali ke rumah mereka sendiri akibat penutupan mendadak tersebut.
Sebuah laporan PBB mencatat bahwa hanya dalam dua minggu pertama bulan September lalu, Israel memasang 18 gerbang baru di berbagai wilayah Tepi Barat. Selain itu, terdapat tumpukan tanah besar, beton penghalang, serta pos pemeriksaan yang dijaga ketat tentara bersenjata lengkap. Semua itu, kata PBB, menghambat akses warga Palestina terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan.
“Setiap hari seperti hidup dalam pengepungan. Kita tak tahu kapan bisa melewati gerbang, atau kapan akan ditutup tanpa alasan,” kata Ezzedine Al-Sayouri, warga Desa Deir Dibwan, yang terancam menutup usahanya karena pelanggan tak lagi bisa datang.
Jalur penghubung utama antara utara dan selatan Tepi Barat kini hampir lumpuh. Perjalanan yang sebelumnya memakan waktu 20 menit, kini harus ditempuh lebih dari satu jam melalui jalan-jalan memutar di bawah pengawasan militer.
Beberapa gerbang bahkan dilengkapi kamera pengintai dan dibiarkan tertutup selama berhari-hari.
Warga desa Aboud melaporkan bahwa gerbang di pintu masuk desa kerap ditutup setiap pagi antara pukul 06.00 hingga 09.00, menghalangi mahasiswa menuju kampus dan para pekerja mencari nafkah.“Ini bukan soal keamanan, tapi strategi untuk mematahkan semangat kami,” ujar Mohammad Shalatweh, sopir taksi yang saban hari terjebak di balik pos penjagaan.
Militer Israel berdalih bahwa pembangunan penghalang tersebut merupakan bagian dari pengelolaan dan pemantauan situasi keamanan. Namun bagi warga Palestina, alasan itu hanya topeng bagi politik apartheid yang terus mereka derita sejak pendudukan 1967.
Seorang pejabat militer Israel, yang menolak disebut namanya, mengatakan pasukannya beroperasi dalam situasi keamanan kompleks, di mana kelompok bersenjata berbaur dengan penduduk sipil. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan yang paling menderita adalah rakyat biasa — anak-anak, mahasiswa, buruh, dan pengusaha kecil.
“Setiap kali anak saya pergi ke Ramallah, saya tak yakin ia bisa pulang,” kata Eyad Jameel, pemilik restoran dari Desa Sinjil. “Mereka menutup gerbang tanpa alasan, menjebak semua orang di dalam. Kami hidup dalam ketakutan.”
Kian hari, strategi pembatasan ini terlihat bukan sekadar untuk keamanan, tetapi untuk melemahkan mental dan ekonomi rakyat Palestina. Dengan pergerakan yang terputus, pendidikan tersendat, rumah sakit sulit dijangkau, dan pasar lokal lumpuh, banyak keluarga mulai berpikir untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka sendiri.
Namun bagi sebagian lainnya, justru inilah alasan untuk bertahan. “Mereka ingin kami menyerah dan pergi. Tapi kami tidak akan pernah meninggalkan tanah ini,” tegas Al-Sayouri.