Harlah ke-78 Muslimat NU, Gus Yahya: Kaum Ibu Kunci Mewujudkan Negara yang Kuat
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menghadiri Harlah ke-78 Muslimat NU di Stadion Utama GBK, Jakarta Pusat, Sabtu (20/1/2024) pagi. Dalam tausiahnya Gus Yahya menyebutkan kaum ibu merupakan kunci dan tiang negara untuk mewujudkan negara yang kuat.
"Ibu-ibu adalah kunci, karena an nisa imadul bilad, perempuan adalah tiang-tiang negara," ujar Gus Yahya di hadapan puluhan ribu Muslimat NU yang hadir.
Menurut Gus Yahya, demi kuatnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan demi cita-cita memajukan peradaban bangsa, kaum ibu Muslimat harus siap bergerak dan berjuang bersama dalam menopang kejayaan bangsa dan negara. "Muslimat kuat, Indonesia kuat," katanya.
Gus Yahya bercerita alasan di balik berdirinya Muslimat NU pada 20 tahun setelah didirikannya organisasi terbesar di dunia tersebut pada 1926.
Pendirian Muslimat NU, jelasnya, diawali dengan para pendiri NU yang mempersilakan dua tokoh perempuan NU saat itu, Nyai Siti Saroh dan Nyai Djuaesih, untuk berbicara pada Muktamar NU yang diadakan pada 1938 di Banten.
"Ini artinya, muasis atau pendiri NU memikirkan dan merancang strategi penguatan ibu-ibu NU. Kenapa? Karena NU didirikan dengan cita-cita membangun peradaban," katanya.
Ia menjelaskan, perjuangan dan cita-cita membangun peradaban dimulai dengan negara yang kuat. Sedangkan para ulama mengetahui bahwa ibu-ibu menjadi kunci penting untuk mewujudkan negara yang kuat itu.
Untuk itu, dalam Harlah Ke-78 Muslimat NU ia mengucapkan selamat kepada badan otonom organisasi NU tersebut.
"Kita yakin Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak henti-hentinya mencurahkan berkah dan rahmat-Nya kepada kita semua," kata Gus Yahya.
Harlah ke-78 ini turut dihadiri Presiden Jokowi, Ibu Negara ke-4 Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Rais' Aam KH Miftachul Akhyar, Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Ketua MUI KH Anwar Iskandar, dan Pj Gubernur Jakarta Heru Budi. .
















