Esai ‘Manurung: Distopia Perang Dingin dalam Novel Goenawan Mohamad’
Hasan Tarowan
PERTIKAIAN ideologis antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet selama Perang Dingin menjadi periode yang menentukan dalam sejarah dunia. Novel ini berlatar belakang era itu, suatu babak sejarah yang sangat penting tapi mungkin sudah dianggap lewat dan kini makin jarang diketahui generasi sekarang.
Manurung adalah novel kedua Goenawan Mohamad. Dengan novel ini GM berusaha menangkap kerumitan, kemurungan, atau semacam distopia perjalanan hidup seorang eksil yang mencari adiknya yang hilang secara apa adanya, tanpa melebih-lebihkan, dan tanpa menyederhanakannya.
Latar belakang teks Manurung tak lain merupakan wujud refleksi Goenawan Mohamad atas pengalaman politiknya. Ia menyusun naskah ini dengan kontemplasi internal yang sangat kuat. GM mencoba menangkap realitas tentang bagaimana kekuasaan dalam kondisi tolitarian dan brutalitas beroprasi. Seperti pada esai-esainya, GM memberikan perenungan filosifis. Novel ini seolah menjadi potret eksplorasi prosanya yang lain, dengan cara menyusun cerita-ceritanya dengan sentuhan-sentuhan yang magis dan puitis.
Selain itu, Goenawan Mohamad menawarkan gaya penulisan yang segar dan baru, bahkan bisa dikatakan menabrak konvensi penulisan novel. GM menggunakan bentuk montase dalam bercerita, yaitu suatu metode penceritaan yang tidak dipaparkan secara keseluruhan, melainkan dipotong-potong seperti mozaik. Di titik inilah keseruannya, kita sebagai pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya fantasi kita, kemudian mengimajinasikan sendiri agar cerita-cerita yang terpotong itu menjadi utuh.
Penulis beranggapan, novel ini, selain sebagai kritik juga bentuk lain dari kekecewaan terhadap rezim keji komunisme Joseph Stalin yang melakulan segala cara untuk melanggengkan kekuasaan dan mengesampingkan cita-cita sosialisme itu sendiri.


















