Rayakan Juni, Boyolali Book Club Gelar Baca-Bincang Puisi dan Hadirkan Murid Sapardi
Akhmad Baihaqi Arsyad







Event ‘Juni Berpuisi’ ini dikemas dengan serangkaian acara pembacaaan puisi, bincang-bincang puisi hingga diskusi seputar sastra yang diikuti oleh para peserta member BBC dan juga masyarakat dari Boyolali dan sekitarnya.
Menariknya, dalam acara yang dihelat di bulan yang lekat dengan legenda penyair Tanah Air, Sapardi Djoko Damono (SDD), ini, turut mengundang sastrawan Ibnu Wahyudi (Iben) yang tak lain adalah mahasiswa sekaligus asisten Sapardi saat menempuh pendidikan di Universitas Indonesia (UI), Jakarta.
.jpeg)
Berlangsung dari senja hari hingga malam, acara tersebut diawali dengan selebrasi pembacaan puisi. Suasana di cafe sudut Boyolali itu pun seketika menjadi lebih hidup saat puisi demi puisi dibacakan oleh para peserta yang datang dengan berbagai pembawaan. Dari puisi Sapardi Joko Damono berjudul ‘Aku Ingin’ yang dibawakan dengan musikalisasi puisi, Sutardji Calzoum Bachri ‘Perjalanan Kubur’, WS. Rendra ‘Nyanyian Adinda Untuk Saijah’ hingga Puisi Joko Pinurbo (Jokpin) ‘Kamus Kecil’ yang dibawakan dengan sentuhan pembawaan emosional dari pembacanya.
Di sesi bincang puisi dalam event tersebut, disinggung pula pembahasan mengenai musik puisi yang menjadi salah satu cara menyampaikan puisi dengan dilagukan atau dinyanyikan. Satu puisi yang diperbincangkan adalah puisi berjudul ‘Yang Berhasrat Meminangmu, Kekasihku’ karya dari penyair asal Semarang, Arif Fitra Kurniawan yang telah digubah oleh grup musik puisi Swaranabya.
Pada sesi inti, Ibnu Wahyudi (Iben) yang sembari merilis buku puisi terbarunya bertajuk ‘Sampai Menutup Kata’, juga mengungkap proses perjalanannya dalam berkarya hingga terbitlah karya yang ke-25 sampai usia 67 ini.
“Dari tahun 70-an, saya sudah mulai menulis puisi tapi intensitasnya belum seperti saat ini. Pada suatu ketika di tahun 2016, ramai orang membuat resolusi pencapaian tahun depan apa. Nah, saya tidak suka seperti itu. Saya waktu itu hanya menulis puisi. Dan kemudian itu menjadi semacam tradisi hingga menulis puisi setiap hari dari 1 Januar tahun 2016. Sekarang bayangkan, 1 tahun kan ada 365 puisi, maka sampai di titik inilah bisa menerbitkan buku puisi ke-25,” ungkap sastrawan kelahiran Ampel, Boyolali ini.
Dalam bincang puisi itu, Iben menyebut bahwa karya sastra, termasuk puisi, jika sudah sampai ke tangan pembaca, maka bebas untuk dimaknai apa saja. Ada hal unik dan cukup menggelitik yang diungkap oleh Iben soal puisi ‘Aku Ingin’ milik Sapardi di mana ada fenomena orang-orang memakai puisi itu sebagai sampul undangan pernikahan. Hal itu, menurutnya, berbahaya.
“Banyak yang memakai puisi ‘Aku Ingin’ milik Sapardi sebagai sampul undangan pernikahan dan itu ditujukan kepada pasangannya. Ya, mungkin mereka menganggap puisi itu sangat pas ditujukan untuk pasangannya. Tapi sebenarnya itu bahaya lho. Kenapa? Aslinya dalam puisi itu menitikberatkan kata ‘Ingin’. Kata ‘Ingin’ berarti adalah sesuatu yang belum terjadi atau belum sampai. Jadi belum sempat disampaikan kepada kekasihnya, …‘dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu’.
…‘dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Nah, kan bahaya?” ujarnya disambut gelak tawa para peserta.
Namun, kata dia, puisi memang bebas saja ditafsirkan. Seperti ‘Hujan Bulan Juni’ yang dahulunya Juni adalah musim kemarau dan jarang hujan, lanjut dia, sekarang ternyata Juni masih hujan terus. Maka, ini bisa dimaknai dengan perspektif lain. “Jadi, puisi bebas dimaknai, yang penting membawa kebermanfaatan bagi pembaca,” katanya.
.jpeg)
Adapun event ‘Juni Berpuisi; ini adalah event perdana dilakukan oleh komunitas BBC. Hal itu disampaikan oleh Ketua BBC, Nimatul Faizah di sela-sela acara. “Acara Juni Berpuisi ini baru perdana digelar atas keinginan para member di luar kegiatan rutinan yang telah dilakukan. Ada suasana baru yang ingin dibangun selain dari rutinitas BBC membaca buku bareng,” katanya.
Menurutnya, BBC telah aktif menjadi wadah bagi anggota dari berbagai kalangan mulai dari usia SD hingga dewasa dan bahkan sudah bekerja dan berkeluarga. “Kita ada kegiatan baca buku bareng rutin tiap seminggu sekali biasanya hari Sabtu. Di lokasi yang disepakati, semua member membawa buku bacaannya dan dibaca ditempat selama 30 menit. Setelah itu, mereka nanti mendiskusikannya satu per satu mengenai buku yang dibaca,” katanya.
Dari komunitas ini, kata dia, masyarakat khususnya di wilayah Boyolali dan sekitarnya yang memiliki minat bisa saling mengisi dan berbagi bacaan. “Dari acara Juni Berpuisi ini, semoga akan makin memberikan variasi dalam literasi dan wawasan masyarakat Boyolali khususnya para member BBC sendiri,” ketua dari komunitas yang dibentuk sejak Desember 2024 itu.


