Esai ‘Eksotisme Lingkungan dalam Cerpen’
S. Prasetyo Utomo
EKSOTISME lingkungan menjadi roh penciptaan sebagian cerpen Indonesia mutakhir, tidak hanya larut dalam deskripsi latar, tetapi juga membangkitkan struktur narasi. Cerpen hadir setelah pengarang melakukan obsesi terhadap lingkungan, dengan deskripsi ruang, waktu, dan suasana cerita yang membingkai karakter tokoh, mempertajam konflik. Buku Tapak Tilas (Dalang Publishing, 2022) menghadirkan cerpen-cerpen yang memikat, justru karena mengangkat eksotisme lingkungan.
Buku yang disusun Lian Gouw ini menghimpun cerpen-cerpen karya pengarang Indonesia yang sadar untuk mendeskripsikan latar dengan daya tarik hal yang tidak lazim, khas, belum banyak dikenal. Dapat dikatakan bahwa eksotisme berkaitan dengan keanehan yang memikat, sebuah keistimewaan, keunikan budaya, tempat, atau hal yang tidak biasa. Dalam esai ini lingkungan dimaknai sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, sumber daya, energi, keadaan, dan makhluk hidup termasuk juga manusia dan perilakunya yang memengaruhi alam.
Saya mesti memilih beberapa cerpen yang memiliki keunggulan eksotisme lingkungan dan membangkitkan rasa takjub. Tentu saja pilihan saya sangat dipengaruhi selera sebagai pembaca. Saya tertarik pada cerpen “Blokeng” karya Ahmad Tohari, “Zakaria” karya Linda Cristanty, “Ketuk Lumpang” karya Muna Masyari, “Topeng Nalar” karya Dewi Ria Utari, dan “Wali Kesebelas” karya Triyanto Triwikromo. Cerpen-cerpen lain tak kalah memikat, tetapi untuk membahas semua karya mereka yang disusun selama sepuluh tahun (2012-2022) memerlukan ruang yang cukup untuk menganalisisnya.
***
Kecenderungan Ahmad Tohari mencipta teks sastra dengan obsesi pada realitas sosial mempengaruhi deskripsi eksotisme lingkungan cerpen “Blokeng”. Eksotisme lingkungan kampung, kehidupan orang-orang marginal dengan kebiasaan-kebiasaan yang menyelubunginya, menjadi pertaruhan Ahmad Tohari untuk mengembangkan struktur narasi.


















