Taufiq Ismail: Jejak Panjang Seorang Penyair dan Penggerak Budaya
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Taufiq Ismail merupakan sosok penting dalam peta kesusastraan Indonesia modern. Lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, pada 25 Juni 1935, ia tumbuh besar di Pekalongan dalam lingkungan keluarga religius.
Ayahnya, K.H. Abdul Gaffar Ismail, adalah tokoh Muhammadiyah yang dihormati, sedangkan ibunya, Tinur Muhammad Nur, berasal dari Pandai Sikek, sebuah daerah yang juga sarat nilai-nilai Islam dan tradisi Minangkabau.
Awal Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Pendidikan dasar Taufiq dimulai di Solo dan dilanjutkan di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Ngupasan, Yogyakarta, tempat ia lulus pada 1948. Setelah menempuh pendidikan menengah di SMP Bukittinggi dan kemudian SMA Bogor, ia menyelesaikan SMA di Pekalongan. Tahun 1957, Taufiq berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat, belajar di Whitefish Bay High School, Wisconsin. Pengalaman internasional ini memperkaya wawasannya, terutama dalam bidang kebudayaan dan sastra.
Sekembalinya ke tanah air, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Indonesia di Bogor, dan lulus sebagai dokter hewan pada 1963. Semasa kuliah, ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan sempat menjabat Ketua Senat serta Wakil Ketua Dewan Mahasiswa. Namun, karier akademiknya terhambat setelah ia menandatangani ‘Manifes Kebudayaan’—sebuah deklarasi sikap budaya yang membuatnya dipecat dari kampus dan menggugurkan rencana studi lanjutnya di AS.
Dunia Sastra dan Perjuangan Budaya
Seagaimana dilansir dari Ensiklopedia Sastra Indonesia di laman resmi Kemdikbud, tahun 1966 menjadi titik balik dalam kiprah kesusastraan Taufiq. Bersama tokoh-tokoh seperti Mochtar Lubis dan Arief Budiman, ia mendirikan ‘Horison’, majalah sastra yang kelak menjadi wadah penting para Indonesia. Taufiq tidak hanya menulis, tetapi juga terlibat dalam pembinaan seni dan budaya—ia turut mendirikan Dewan Kesenian Jakarta, menjadi direktur Taman Ismail Marzuki, serta menjabat Rektor Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ).
















