/1/
Salam kenal, aku hanya singgah sebentar di sini
untuk menemui fragmen peristiwa di mana
barang bekas diperjual-belikan kecuali botol-
botol plastik yang kehilangan nilai daur ulangnya
sendiri. Assalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh, syalom, om swastiastu, namo
buddhaya, salam sejahtera bagi kita semua.
/2/
Bulan ini adalah bulan ke satu dengan temperature
rata-rata tiga puluh dua derajat pada tahun
yang tak bisa kau tentukan. Kuhidu udara malam
dan sebuah kursi kayu tergeser sedikit karena
desakan makna yang ingin dia raih sendiri.
Tak bisa dibedakannya suara jangkrik ataukah
bisik risau yang gelombangnya menabrak dinding
lalu pecah ke empat tepas dunia.
/3/
Pada sebuah situs forum jual-beli kubacakan
sajak tentang Manokwari yang beberapa waktu
belakangan ini diguyur hujan setiap hari minggu.
Sambil duduk aku mengangkang di atas
tumpukan buku lalu perasaan asing memuncak
dan tak berbatas. Sementara itu penonton sibuk
membersihkan lawah menggumpal yang keluar
setiap tiga menit dari mulut mereka.
/4/
Di pinggir suatu jalan baru yang bau aspalnya
adalah nafas tersekat asap bakaran. Seorang anak
menunjuk-nunjuk sebuah papan reklame
bergambar tiga orang pemuda berjanggut tipis,
tampak setengah badan saling bersisian.
Entah warna yang cerah atau lampu sorot
yang membuatnya melenguh-lenguh seperti sapi
kegirangan di dekap gendongan ibunya. Dalam
hati aku berkata: nak, jadilah dokter yang
menyarankan seorang ibu untuk memberi
bayinya susu formula bila ASI tak ada.
/5/
Di sebuah fakultas sastra, aku mengingat
sebuah sajak dengan agenda moderenisasinya,
tapi tak ada hidup yang ringan di sini, hanya asin
laut meresap pada sebongkah tanah ulayat
dan kebatilan pun mengudara. Sejak saat itu, aku
melihat slogan ‘Pro Humanitate Scientia’ tak lagi sama.
Terbakarlah, biarlah api memeluk dan melahap hancur
kutuk hantu-hantu dalam tubuhmu, sejak kau berteriak-
teriak bahwa merdeka hanyalah bagi mereka yang sanggup
melumpuhkan kesengsaraan. Apa yang kelak jadi bara,
hanya inginkan arang bakal menyaru sebagai hal-hal purba
di tanah leluhurmu. Maka berkacalah perang dalam parang,
mengesuplah darah dalam isapan percuma.
Seorang pendeta telah mencuri keramahannya sendiri
lalu meninggalkan tanah yang membangkar dicakar
jemaatnya. Lalu kau hanya melukiskan bunyi gerus
yang melukai telinga anak-anak tuhan yang menguduskan
hari sabat di kota injil yang terasa bejat. Suatu senja
membenamkan diri, yang terekam hanyalah kantuk
yang mulai runtuh dan bersusah payah bangkit kembali.
“Kota ini butuh benteng batu”, katamu seolah imanmu
telah luruh, tanggal meninggalkan seberkas jejak di batas
pergantian musim. Kau cepat marah namun merasa
tuhan paling pangling untuk menyayangimu. Apa yang
kau lihat hanya senyap malam-malam, yang memelukmu
ialah putih halus semesta seperti pukul empat pagi
yang lewat begitu saja.
Berapa pasang mata yang melihatmu kini? Mata-mata
anak kecil yang kegiatan sekolahnya dibatalkan hari fakultatif.
Para perantau yang kehilangan alasan mencari nasib
di tanah bertuah. Mama-mama yang duduk di atas bak pikap
mendekap bayinya dan tak bisa membedakan mana ingus
atau getah dari pisang yang akan dijualnya ke pusat kota,
sama mengering diterpa angin. Mata-mata siapa lagi?
Katakanlah padaku, bahwa kemerdekaan dan rasa panas
ini hanyalah fiktif belaka. Kemudian berilah makna yang lain
pada api, sebab yang hangus hanya akan menetapkan jejak
tanpa kau sadari. Meski kau kira tak membawa apa-apa,
percaya tidak percaya, sementara itu soal bahaya. Maka
jemariku menyatakan cinta padamu, memetik jantung
bagi hatimu, sebab mulut telah belajar selama ribuan tahun
untuk terbiasa merutuk dan mengutuk.
Di sini anak-anak lahir membawa bau etnografi,
Tak ada lumat tanaman berakar batang untuk diusap
menebalkan kiasan yang biasa digunakan orang-
orang awam. “Meski peristiwa itu tak akan
mengekalkan”, kau ucapkan dari balik kata-kata
yang tak pernah tertulis tapi orang-orang tetap
berusaha membaca. Ketika itu juga setiap pencatatan
yang pernah kulakukan menemukan kesia-siaannya
berdamai dengan huruf yang buta dan tombak
kehilangan matanya dalam gelap.
Keramaian 12 jam hidup di sini, pohon cabai
berbuah banyak di tanah berkapur, burung elang
mengitari kepala botak para profesor. Sekian banyak
perantau pun berdatangan terus-menerus dan
singgah hanya untuk memikirkan cara bagaimana
untuk pulang. Lalu sampah plastik yang diborong
belanja bulanan rumah tangga, lebih dulu menjadi
polusi visual tinimbang papan iklan rokok dengan
silau lampu sorot. Waktu hanya bergerak, tidak hirau
ketika kukatakan “aku berada 2 jam di masa
depanmu” untuk menagih kesetiaan sepi
yang belum tersalin rapi.
Itulah peristiwa yang digambarkan bunyi ombak
sembari arusnya menghapus bibir pantai sampai
ujung lengkungnya sejauh mata memandang. Di situ
anak-anak tumbuh mengabaikan gunung, bersahabat
dengan laut tanpa memiliki ilmu tentang matahari,
bulan, dan bintang. Kau pun perlu tau bahwa labu
kuning menyatu dengan rahim ibu mereka,
menyimpan biji-biji yang belum tentu dapat
menyaru sebagai sistem kekebalan tubuh. Anak-
anak ini kurus, melambai pada ketak-terdugaan
seperti apa mereka akan diproduksi kembali
dalam teks yang mengalami perluasan makna.
Suatu waktu nanti anak-anak ini akan menjadi
cermin bagi sejarah dan dari dalamnya lingsa
menguarkan tongkat-tongkat kayu untuk membaca.
Di sini bisu kemerdekaan adalah suara yang sulit
diraba, ingatan-ingatan menyusuinya sebagai anak
tiri. Maka hanya ada dua pilihan: mendendam lalu
minggat atau meredam kemudian meledak.
Sementara itu, ramai-ramai orang-orang bernyanyi,
satu anak lagi lahir membawa bau etnografi.
Aku menemukanmu sebagai kemerdekaan,
raung yang tenggelam dan berupaya bangkit
di bulan desember. Suar suaramu kutanam jauh
dari permukaan tanah, gelap nun mencari cahaya
akan bersusah payah. Maka kembalilah engkau
sebagaimana mulanya, kosong sebenar-benarnya,
hitam sepekat-pekatnya. Hiduplah engkau sebagai
kejenuhan tanpa ruang, seumpama riuh
kau adalah renung tanpa petuah.
Setiap kali kami belajar mengenalmu,
tumbuh lidah di atas lidah, tajam yang paling
kejam. Kami biarkan ia meliuk sana-sini, menyayat
sesuka yang ia yakini. Tapi garam-garam laut beri
ami penguatan, melepuhkan kulit yang hamper
gagal sebagai permukaan. Lalu lewat debur ombak
ikan-ikan menyampaikan ajarannya tentang cara
bertahan, menebalkan setiap lapis daging dan siap
disayat berkali-kali tanpa rentan hati.
Di kota ini, setiap akhir pekan sebagian kami
sibuk baku hantam, sebagian lagi berjalan dengan
iman menuju rumah studi kasus ketegaran. Tapi
yang biru selalu tak lebih legam, yang amin tak
lebih penghujung dari harapan. Sementara itu,
para utusan selalu datang menawarkan menu-menu
baru arti kehidupan. Kata mereka kaki tak selamanya
menginjak, melangkah hanya mencoba peruntungan.
Sesungguhnya aku hanya semu bagimu, seperti
ada nyala api tapi kesulitan mencium bau gas
dari dapur. Hanya batu dibakar kayu, jamuan
sebelum kita pernah bertemu. Aku buangan
sampai menemukanmu sebagai kemerdekaan,
hanya cercah kehilangan nyala pada bulan
terakhir di akhir tahun.
/1/
Suara itu menyatu dengan udara lengket dalam
ruangan. Tak ada koma di antara yang senyap
dan setelahnya. Kau pun telah terbiasa meredam
kemerdekaan dan hasratnya tertahan di penghujung
tahun. Seandainya aku adalah waktu, maka akan
kulepas tiap-tiap angka dari almanak. Percayalah,
perintah pertamaku pada mereka adalah gerogoti
manusia yang tanpa akal, lalu yang lambat
menyampaikan maksud.
/2/
Ada tangan-tangan yang menjulur ke langit, ada juga
yang rebah di tanah. Awalnya mereka meminta bunyi
kering yang bisa dirasa dalam genggaman atau
ditanam lantas berbunga selupan. Namun penakhlukan
tak jauh dari pelupuk mata, kaummu sendiri terlilit pukat.
Maka traktat kini sebatas ungkapan yang menutupi
liang lahat. Bahwa waktu pernah menyaksikan kotoran
sisa debu bercampur dengan sejarah yang melekat
pada tubuh orang-orang.
/3/
Waktu memudar dan berangsur-angsur tak lagi bias
diurai. Kau pun bergeming merasa ada yang bersembunyi
di balik sebuah teori tentang perang. Jantungmu melambat
degupnya, kau bayangkan ujub yang desingnya tak mengena
pada siapapun. Kau tak pernah bisa menerka, bagaimana
pengetahuan bakal mampu menunda kemusnahan.
/4/
Terhidanglah suara itu di atas nampan tapi tak terlihat
ujung tepinya. Kau meragukan kuasa itu sebab aku
adalah rahasia. Semisal taksa terburai dari sebuah kata,
kau hanyalah sisa dari suatu maksud yang tak sampai.
Abaikanlah aku jika rumpang cita-cita yang kau usung
atau muslihat dari barat tak bisa kau lihat. Tak bias
kau dengar, suara itu hanya segera menyatu, menyeka
yang lain ataupun sesamamu.
Marsten L. Tarigan,
Lahir di Pematangsiantar-Sumatera Utara, 23 februari 1991. Saat ini berdomisili di Manokwari dan mengajar di Universitas Papua. Buku kumpulan puisinya adalah ‘Mengupak Api yang Hampir Padam’ (2016).