Apakah Anda termasuk salah satu orang yang merasa takut dan gugup saat berbicara di depan umum? Bisa jadi Anda terkena glossophobia yang perlu segera diatasi. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Apakah Anda termasuk salah satu orang yang merasa takut dan gugup saat berbicara di depan umum? Bisa jadi Anda terkena glossophobia yang perlu segera diatasi.
Dirangkum Erakini dari berbagai sumber, Minggu (3/3/2024), Glossophobia merupakan salah satu jenis fobia yang paling banyak terjadi. Kondisi ini menyebabkan penderitanya merasa berbicara di depan umum. Diperkirakan sekitar 75% orang di seluruh dunia mengalaminya.
Glossophobia tidak hanya ditandai dengan rasa takut, tetapi juga disertai rasa cemas dan gugup secara berlebihan. Rasa takut berbicara di depan umum dapat memengaruhi berbagai bidang kehidupan. Apabila tidak segera ditangani, glossophobia dapat menimbulkan sejumlah dampak buruk lain, salah satunya sulit menerima kritikan dari orang lain.
Dampak lainnya adalah harga diri rendah (low self-esteem), kesulitan bersikap tegas dan jelas dalam berkomunikasi, sering merasa pesimis, kemampuan sosial yang rendah, melakukan isolasi sosial yang dapat meningkatkan risiko agoraphobia, menurunnya prestasi di tempat kerja maupun sekolah, dan terparah memiliki pikiran atau melakukan percobaan bunuh diri.
Lantas, bagaimana cara mengatasi glossophobia? Glossophobia umumnya bukanlah gangguan mental yang berbahaya. Meski demikian perlu dikelola dengan baik agar tidak menghambat kehidupan sehari-hari, khususnya dalam hal pekerjaan.
Pada dasarnya, rasa gugup saat harus berbicara di depan umum adalah hal yang normal. Namun, berbeda dengan penderita glossophobia. Mereka cenderung merasakan ketakutan dan kepanikan yang luar biasa saat berbicara di depan umum, sehingga lebih memilih menghindari situasi tersebut.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti penyebab glossophobia. Namun, seseorang diketahui lebih berisiko menderita kondisi ini apabila pernah mengalami kejadian buruk di masa lalu. Terutama saat dihadapkan dengan suatu keadaan yang mengharuskannya berbicara di depan umum.
Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya glossophobia. Misalnya, sifat yang diwariskan dari keluarga: Seseorang lebih berisiko mengalami glossophobia apabila terdapat salah satu anggota keluarganya yang juga mengidap glossophobia ataupun anxiety disorder.
Kemudian fisiologi otak. Di dalam otak terdapat struktur yang bertugas mengatur rasa takut, yaitu amigdala. Apabila amigdala terlalu aktif, seseorang dapat merasakan cemas, takut, dan khawatir secara berlebihan.
Lalu, pola asuh orang tua. Memiliki orang tua yang menunjukkan kecemasan berlebih saat berbicara atau terlalu protektif terhadap anak juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami glossophobia.
Kepribadian pemalu dan sering berpikir bahwa orang lain menilai atau menghakimi (judging) dirinya juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengembangkan fobia ini. Termasuk mengonsumsi obat-obatan tertentu. Obat-obatan tertentu serta kafein dapat meningkatkan risiko dari glossophobia.
Munculnya rasa takut pada penderita glossophobia adalah respons alami tubuh saat seseorang merasa terancam ketika harus berbicara di depan umum. Ketakutan itulah yang kemudian merangsang otak untuk melepaskan hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol yang dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Gejala utama glossophobia adalah rasa takut dan kecemasan yang intens saat harus berbicara di depan umum. Di samping itu, glossophobia juga dapat menimbulkan sejumlah gejala lain, seperti keringat dingin, jantung berdebar, tubuh gemetar, mual atau muntah, pusing, suara bergetar, sesak napas, otot menegang, nyeri dada, sering buang air kecil, diare, dan Serangan panik (panic attack).
Orang dengan glossophobia masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, baik saat di rumah, tempat kerja, maupun sekolah, dengan catatan selama tidak harus berbicara di depan umum, seperti melakukan presentasi atau pidato.
Cara Mengatasi Glossophobia
Penanganan utama terhadap glossophobia adalah dengan psikoterapi dan obat-obatan. Melalui kombinasi psikoterapi dan obat-obatan, penderita glossophobia biasanya dapat memberikan respons dengan baik, sehingga gejalanya pun bisa lebih cepat mereda.
Salah satu jenis psikoterapi yang paling banyak digunakan untuk mengatasi glossophobia adalah terapi perilaku kognitif atau cognitive behavioral therapy (CBT). Tujuan utama CBT adalah mengubah pemikiran, perasaan, dan perilaku pasien agar bisa menghadapi ketakutannya saat harus berbicara di depan umum.
Selain terapi perilaku kognitif, beberapa jenis terapi lain yang dapat digunakan untuk mengatasi glossophobia adalah exposure therapy, interpersonal therapy (IPT), dan psychodynamic therapy. Durasi terapi setiap pasien bisa berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahan kondisi pasien di awal pengobatan.
Sebagian orang dengan glossophobia juga bisa membaik melalui terapi dan penerapan gaya hidup sehat. Namun, sebagian lainnya mungkin memerlukan obat-obatan, seperti obat penenang atau antidepresan untuk mengatasi kecemasannya.
Metode ini biasanya diperlukan oleh penderita glossophobia yang sudah menderita gangguan mental lain sebelumnya, seperti depresi atau gangguan cemas.