Hizbullah Lebanon meluncurkan lebih dari 200 roket pada hari Kamis di beberapa pangkalan militer Israel, sebagai aksi balasan atas tewasnya komandan senior mereka. Foto: AP
BEIRUT (ERAKINI)- Kelompok HizbullahLebanon meluncurkan lebih dari 200 roket pada hari Kamis di beberapa pangkalan militerIsrael. Hal ini sebagai aksi balasan atas serangan yang menewaskan salah satu komandan seniornya, Mohammed Nasser.
Serangan dilakukan oleh kelompok militan yang didukung Iran tersebut merupakan salah satu serangan terbesar dalam konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di sepanjang perbatasan -. Ketegangan telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Militer Israel mengatakan, banyak proyektil dan sasaran udara yang mencurigakan telah memasuki wilayahnya dari Lebanon. Dikatakan, sekitar 200 proyektil diluncurkan ke arah Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel dan lebih dari 20 drone ke wilayah Israel. Namun beberapa diantaranya berhasil dicegat.
Setelah serangan Hizbullah, Israel menyerang berbagai kota di Lebanon selatan. Militer Israel mengatakan pihaknya menyerang struktur militer Hizbullah di kota perbatasan selatan Ramyeh dan Houla.
Kantor Berita Nasional yang dikelola pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan pesawat tak berawak Israel di Houla menewaskan satu orang. Jet Israel juga memecahkan penghalang suara di ibu kota Lebanon, Beirut, dan wilayah lain di negara tersebut.
Israel merebut Golan, sebuah dataran tinggi strategis, dari Suriah dalam perang Timur Tengah tahun 1967 dalam sebuah tindakan yang diakui oleh Amerika Serikat, namun ditolak oleh komunitas internasional.
Ketua Dewan Eksekutif Hizbullah Hashem Safieddine bersumpah bahwa kelompok tersebut akan melanjutkan serangan balasannya. Target mereka adalah situs-situs baru yang tidak pernah Israel bayangkan akan diserang.
“Musuh kadang-kadang mengakui serangan ini dan kadang tidak. Tapi yang pasti ada banyak korban jiwa,” katanya di pemakaman Nasser, dikutip dari AP.
Nasser sangat penting bagi Hizbullah. Ia telah mengambil bagian dalam pertempuran di Suriah dan Irak dari tahun 2011 hingga 2016, dan bertempur dalam perang terakhir kelompok tersebut dengan Israel pada tahun 2006. Dua komandan senior Hizbullah lainnya juga telah terbunuh.
AS dan Prancis terus berupaya mencegah bentrokan tersebut berkembang menjadi perang habis-habisan, yang mereka khawatirkan akan meluas ke seluruh kawasan.
Washington dalam upaya diplomasinya awalnya mengharapkan ketenangan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel dalam kesepakatan yang tidak terkait dengan perang di Gaza.
Namun, karena AS telah meminta Hamas untuk menyetujui proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Presiden Joe Biden, AS mengatakan bahwa berakhirnya perang di Gaza akan membawa ketenangan di Lebanon dan Israel utara juga.
Konflik ini meletus tak lama setelah pecahnya perang di Gaza. Hizbullah mengatakan mereka menyerang Israel sebagai solidaritas terhadap Hamas.
Pimpinan kelompok tersebut mengatakan mereka akan menghentikan serangannya setelah ada gencatan senjata di Gaza. Meskipun idak menginginkan perang, namun mereka siap untuk perang.
Sementara itu, para pejabat Israel mengatakan mereka dapat memutuskan untuk berperang di Lebanon jika upaya penyelesaian diplomatik gagal.
Pembalasan Hizbullah terjadi sehari setelah penasihat senior Presiden AS Joe Biden, Amos Hochstein, bertemu dengan utusan Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk Lebanon, Jean-Yves Le Drian, di Paris.
Pertempuran tersebut telah menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi di kedua sisi perbatasan. Di Israel utara, 16 tentara dan 11 warga sipil tewas. Di Lebanon, lebih dari 450 orang tewas, kebanyakan pejuang dan puluhan warga sipil.
Israel memandang Hizbullah sebagai ancaman paling langsung dan memperkirakan bahwa mereka memiliki 150.000 roket dan rudal, termasuk rudal berpemandu presisi.