Zohran Mamdani, kandidat wali kota New York City, merayakan kemenangannya di acara malam pemilihan di New York pada Rabu (25/6/2025) pagi saat ia memimpin perolehan suara. (Foto: Bloomberg).
JAKARTA (ERAKINI) – Dalam sebuah pencapaian yang mencatatkan sejarah baru, Zohran Mamdani, legislator muda berusia 33 tahun dari Partai Demokrat, berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan untuk kursi Wali Kota New York City.
Ia menjadi tokoh Muslim pertama yang mencalonkan diri untuk jabatan tersebut di kota terbesar Amerika Serikat. Dengan 95% suara sudah masuk, Mamdani unggul atas mantan gubernur kontroversial Andrew Cuomo dengan perolehan suara 43% berbanding 36%.
Kemenangan ini didorong oleh dukungan kuat dari akar rumput dan agenda politik progresif yang berani. Sistem peringkat suara yang diterapkan di New York memungkinkan hasil akhir berubah, namun posisi Mamdani dianggap cukup solid untuk mengamankan pencalonannya.
"Kita baru saja menorehkan sejarah malam ini," ucap Mamdani kepada para pendukungnya. "Saya resmi menjadi kandidat Demokrat untuk jabatan Wali Kota New York City," imbuhnya.
Keberhasilan Mamdani melawan Cuomo—yang sebelumnya merupakan sosok kuat di perpolitikan negara bagian—dinilai sebagai titik balik bagi kaum progresif di New York, serta simbol bergesernya kekuatan politik ke arah yang lebih inklusif dan beragam.
Lahir di Kampala, Uganda, Zohran Mamdani pindah ke Amerika Serikat saat masih kecil dan dibesarkan di kota New York. Ia menyelesaikan pendidikan menengah di Bronx High School of Science dan melanjutkan studi Afrika di Bowdoin College, di mana ia turut mendirikan organisasi pro-Palestina di kampus.
Mewakili generasi muda progresif, Mamdani tampil sebagai sosok yang membumi dan dekat dengan komunitas multikultural di New York. Ia mengunggah materi kampanye dalam berbagai bahasa—termasuk Urdu dan Spanyol—serta menampilkan unsur budaya Asia Selatan dan Bollywood dalam videonya. Hal ini memperkuat kedekatannya dengan komunitas diaspora.
Istrinya, Rama Duwaji, adalah seorang seniman keturunan Suriah yang tinggal di Brooklyn. Keduanya bertemu lewat aplikasi kencan Hinge. Mamdani juga berasal dari keluarga intelektual dan seni: ibunya, Mira Nair, adalah sutradara film ternama, sementara ayahnya, Mahmood Mamdani, merupakan profesor di Columbia University. Keduanya lulusan Harvard.
Sebelum memasuki dunia politik, Mamdani bekerja sebagai pendamping perumahan, mendampingi warga berpenghasilan rendah di Queens menghadapi risiko penggusuran. Ia dikenal sebagai aktivis yang konsisten menyuarakan keadilan sosial dan ekonomi, dengan akar pengorganisasian komunitas yang kuat.
Identitas keagamaannya tidak disembunyikan—sebaliknya, ia menampilkannya sebagai bagian integral dari perjuangan politiknya. Mamdani secara aktif menghadiri masjid dan membuat konten kampanye dalam bahasa Urdu yang menyoroti krisis biaya hidup.
“Muncul secara terbuka sebagai Muslim juga berarti menghadapi risiko terhadap keamanan pribadi,” katanya dalam salah satu pidato publik. Pernyataan itu mencerminkan bagaimana ia menjadikan keimanan sebagai kekuatan moral dalam politik yang kerap keras.
Jagpreet Singh dari organisasi keadilan sosial DRUM menyatakan, “Zohran satu-satunya calon yang benar-benar membawa suara orang-orang yang selama ini terpinggirkan.”
Fokus Mamdani di New York adalah keadilan ekonomi dan aksesibilitas. Mamdani menjadikan isu keterjangkauan sebagai prioritas utama kampanyenya. Dalam wawancara dengan BBC, ia menyoroti ketimpangan ekonomi yang mencolok di New York.
"Ini adalah kota di mana satu dari empat orang hidup dalam garis kemiskinan. Setengah juta anak-anak tidur dalam kondisi lapar setiap malam. Jika tidak ada perubahan, kita akan kehilangan esensi dari kota ini."
Kemenangan Zohran Mamdani bukan hanya soal keberhasilan pribadi, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan politik yang lebih representatif, beragam, dan pro-rakyat. Ia mengusung wajah baru untuk masa depan New York—sebuah kota yang dibangun oleh komunitas dari seluruh penjuru dunia.