Para penduduk terlihat berada di jalan dekat dengan bangunan rusak dekat Rumah Sakit Shifa di Kota Gaza, pada 1 April 2024. (Foto: Xinhua/Rizek Abdeljawad)
GAZA, (ERAKINI) - SeranganIsrael ke Jalur Gaza masih tak kunjung dihentikan hingga memasuki hari ke 200 sejak dimulainya konflik Israel-Hamas 7 Oktober 2023 lalu. Lebih dari 1 juta warga Palestina di telah kehilangan tempat tinggal dan sebanyak 75 persen warga Gaza telah mengungsi.
Hal tersebut diungkapkan oleh Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
"Kehancuran terjadi di mana-mana di Gaza. Kerusakan infrastruktur penting sangat besar," tulis UNRWA dalam sebuah unggahan di platform media sosial X pada Selasa (23/4/2024).
Abu Ubaida yang merupakan juru bicara Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, menuduh Israel menghalangi berbagai upaya mediasi gencatan senjata, sebagaimana sebuah rekaman pidato yang menandai hari ke-200 konflik tersebut.
"Israel mencoba menghindar dari semua janji-janjinya dalam negosiasi dan ingin mengulur-ulur waktu," ujarnya.
Ia menyebut bahwa tidak akan ada kompromi terhadap hak-hak dasar rakyat Palestina. "Ini termasuk penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, pencabutan blokade, dan kembalinya warga Palestina yang mengungsi ke rumah-rumah mereka," katanya.
Sementara itu, pada Senin (22/4/2024) dilaporkan oleh Media Israel Hebrew Public Radio bahwa berbagai persiapan sedang dilakukan untuk memperluas zona kemanusiaan di Jalur Gaza menjelang kemungkinan seranganIsrael ke Rafah, kota di ujung selatan Jalur Gaza.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa zona kemanusiaan baru itu akan membentang dari Kota Al-Mawasi di bagian selatan Jalur Gaza di sepanjang jalur pesisir hingga ke pinggiran Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah, dan akan mampu menampung sekitar 1 juta pengungsi.
Sebanyak 5 rumah sakit lapangan telah didirikan di area tersebut guna melengkapi sejumlah rumah sakit yang sudah beroperasi, menurut laporan itu.
Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (21/4/2024) berjanji akan mengintensifkan tekanan militer dan politik terhadap Hamas dalam beberapa hari mendatang.
Ia berulang kali mengancam akan melancarkan serangan ke Rafah, karena kota itu merupakan "benteng pertahanan" terakhir Hamas.
Sebagai informasi, Rafah saat ini menjadi tempat perlindungan terakhir bagi lebih dari 1,4 juta warga Palestina yang terpaksa mengungsi dari Jalur Gaza utara dan Jalur Gaza tengah akibat perang yang masih berlangsung antara Hamas dan Israel.