Search

Korban Tewas Tembus 555 Orang, Serangan AS-Israel di Iran Meluas Hantam Fasilitas Sipil

JAKARTA, (ERAKINI) – Korban tewas warga sipil terus bertambah dalam gelombang serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran. Saat ini jumlah korban tewas di Iran telah mencapai sedikitnya 555 orang. 

Serangan yang kian intensif tidak hanya menyasar target militer dan politik, tetapi juga menghantam kawasan permukiman, sekolah, rumah sakit, hingga fasilitas darurat di Teheran dan sejumlah kota lainnya, sehingga memicu kekhawatiran meningkatnya korban sipil.

Menurut kantor berita Mehr mengutip data Bulan Sabit Merah Iran, setidaknya 35 orang tewas pada Senin (2/3/2026) di Provinsi Fars, Iran selatan. Mehr juga melaporkan lebih dari 20 orang tewas dalam serangan di Lapangan Niloofar, Teheran.

Sementara kantor berita Fars menyebut sedikitnya dua orang tewas di kota Sanandaj, Iran tengah, setelah sejumlah bangunan permukiman di dekat kantor polisi kota itu hancur. Adapun kantor berita Tasnim melaporkan pasukan AS dan Israel menjatuhkan enam rudal di berbagai bagian kota, termasuk kawasan padat penduduk.

Reza Najafi, duta besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengatakan bahwa serangan udara AS-Israel menargetkan fasilitas pengayaan nuklir Natanz.

“Alasan mereka bahwa Iran ingin mengembangkan senjata nuklir hanyalah kebohongan besar,” ujar Najafi, dilansir Al Jazeera.

Israel dan AS belum mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi serangan di lokasi tersebut, yang sebelumnya dibom AS selama perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni lalu.

Koresponden Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan dari Teheran bahwa kekhawatiran kin meningkat atas bertambahnya korban sipil.

“Ini menunjukkan cakupan serangan terhadap Iran, dengan serangan yang tidak hanya menargetkan pusat-pusat politik dan markas militer,” katanya. 

“Kami menyaksikan kerusakan pada bangunan sipil, beberapa di antaranya hancur total. Ini mengkhawatirkan karena jumlah korban sipil terus meningkat,” lanjutnya.

Video yang diverifikasi Al Jazeera juga menunjukkan kepulan asap besar membubung di belakang bangunan dekat bandara internasional di kota Kermanshah, Iran tengah.

Otoritas Iran melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel ke sebuah sekolah perempuan di Minab pada Sabtu meningkat menjadi 180 orang.

Hossein Kermanpour, Kepala Humas Kementerian Kesehatan Iran, menambahkan bahwa jenis rudal yang sama digunakan untuk menyerang Rumah Sakit Gandhi di Teheran. Rumah sakit tersebut mengalami kerusakan parah dan para pasien dievakuasi.

Menurut kantor berita Tasnim, gedung Layanan Darurat Teheran yang terletak di pusat kota juga mengalami kerusakan serius setelah terkena serangan rudal pada Senin.

“Beberapa petugas darurat terluka dalam insiden ini, namun sebagian besar dalam kondisi baik,” ujar juru bicara layanan darurat, seperti dikutip Tasnim.

Kantor berita itu juga melaporkan terdengar ledakan di Teheran ketika serangan udara menargetkan area dekat Lapangan Revolusi, lokasi demonstrasi yang mengecam agresi AS-Israel. Pertahanan udara Iran disebut berhasil mencegat serangan tersebut.

Militer Israel pada Senin mengatakan, Iran meluncurkan lebih banyak rudal dan sistem pertahanan udara sedang beroperasi untuk mencegat proyektil tersebut. Warga diminta berlindung dan tetap berada di ruang aman hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Polisi Israel menyebut sembilan orang tewas akibat serangan rudal Iran di kota Beit Shemesh, Israel tengah. Sementara 11 orang dilaporkan hilang saat tim penyelamat mencari korban selamat.

Iran melanjutkan serangan balasan terhadap Qatar, Bahrain, Yordania, Oman, Kuwait, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, dengan laporan serangan ke bandara, bangunan permukiman, dan hotel.

Negara-negara Teluk berjanji akan mempertahankan diri dari serangan Iran, termasuk dengan merespons agresi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran tidak mencari konfrontasi dengan negara-negara Teluk, melainkan menargetkan aset-aset AS.