Apa Itu PHP? Teknologi Tersembunyi Bertahun-tahun yang Kini Mengancam Jutaan Situs Web Global
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Selama lebih dari satu dekade, kelemahan serius tidak terdeteksi dalam teknologi yang menjadi fondasi sebagian besar internet. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akhirnya berhasil mengungkap kelemahan tersebut dan memicu peringatan keamanan siber global.
Temuan yang diungkap pada Rabu (21/10/2026) tersebut memicu respons darurat dari pemerintah dan lembaga keamanan siber di berbagai negara. Pengelola situs web diminta segera memasang pembaruan keamanan atau mempertimbangkan menonaktifkan sementara layanan mereka jika belum mampu menutup celah tersebut.
Dilansir BBC, Kamis (22/10/2026), kerentanan itu terdapat dalam bahasa pemrograman bernama PHP, yang telah digunakan secara luas di seluruh dunia sejak 2000-an untuk membangun situs web.
Pemerintah dan lembaga keamanan siber di berbagai negara kini berpacu untuk mengendalikan dampak penemuan yang diumumkan pada Rabu. Mereka mendesak para pengelola situs web segera memasang pembaruan darurat atau mempertimbangkan menonaktifkan sementara platform mereka.
Perusahaan keamanan siber Wiz, salah satu perusahaan yang penelitinya menemukan kerentanan tersebut, menyebut kelemahan itu sebagai yang “paling parah” yang pernah terdeteksi menggunakan AI.
OpenAI, yang teknologinya digunakan untuk menemukan kelemahan tersebut, menyebut penemuan itu sebagai “salah satu masalah keamanan paling berdampak dalam beberapa tahun terakhir”.
Apa Kerentanannya?
Sebagian besar orang mungkin belum pernah mendengar PHP. Namun, kemungkinan besar mereka berinteraksi dengan teknologi ini setiap hari.
PHP merupakan singkatan dari PHP: Hypertext Preprocessor. Teknologi ini mendukung beragam platform, termasuk toko daring, Wikipedia, dan WordPress—sistem pengelolaan konten yang digunakan oleh banyak situs web, seperti blog.
Ketika mengunjungi situs seperti Wikipedia, PHP merupakan kode yang mengumpulkan informasi yang dibutuhkan pengguna dan menyajikannya dalam format yang dapat dibaca melalui internet, kata CEO Gorilla Cyber Security, Paul Spain, kepada BBC.
Namun, adanya kelemahan yang memungkinkan penyerang mengambil alih server web yang terdampak tanpa autentikasi dan mencuri data sensitif membuat berbagai sistem yang dibangun menggunakan PHP berpotensi terpapar risiko.
Spain mengatakan, AI dapat membuat serangan semacam itu menjadi lebih mudah dan cepat. Ia memperkirakan kerentanan tersebut dapat memengaruhi “jutaan demi jutaan” situs web.
Peneliti keamanan siber dari University of Adelaide, Jill Slay, mengatakan, akan menjadi bencana jika peretas atau suatu negara memanfaatkan kelemahan tersebut sebagai senjata untuk menguasai situs web dan mengambil data pribadi.
Situs Web Apa Saja yang Terdampak?
Peringatan tersebut telah mengganggu layanan digital di berbagai belahan dunia, mulai dari platform permainan hingga portal pemerintah dan forum daring.
Salah satu organisasi yang terdampak adalah Wikimedia, organisasi di balik ensiklopedia daring Wikipedia. Organisasi tersebut menonaktifkan sejumlah sistemnya sebagai langkah pencegahan.
Sejumlah situs dan halaman milik pemerintah Finlandia, Pemerintah Kota Edinburgh, dan BBC juga dinonaktifkan. Lembaga keamanan siber Belanda turut menutup situs webnya.
EPA — Situs web University of Geneva di Jenewa, Swiss, dinonaktifkan pada 21 Oktober 2026 setelah adanya imbauan dari Tim Tanggap Darurat Komputer Uni Eropa (CERT-EU) menyusul penemuan kerentanan.
Situs web seperti milik University of Geneva juga dinonaktifkan pada Rabu. Sejumlah organisasi publik di Skotlandia, termasuk pemerintah daerah dan badan layanan kesehatan, turut menonaktifkan situs web mereka.
Sejumlah pakar memperingatkan bahwa kerentanan tersebut dapat membuat situs web yang tidak terpelihara dengan baik menghadapi risiko lebih besar. Ancaman ini terutama berlaku bagi organisasi kecil yang memiliki sumber daya terbatas untuk menjaga keamanan sistem mereka.
Peneliti keamanan siber dari UNSW Sydney, Salil Kanhere, menyebutkan, upaya untuk mengeksploitasi kerentanan tersebut kemungkinan meningkat dalam beberapa pekan mendatang karena rincian teknisnya kini mulai dipublikasikan.
Apa yang Terjadi Setelah Kerentanan Terungkap?
Pengembang platform PHP pada Rabu merilis pembaruan keamanan untuk memperbaiki kerentanan yang selama bertahun-tahun tersembunyi di dalam perangkat lunak mereka.
“Seluruh pengguna PHP sangat dianjurkan untuk segera melakukan pembaruan,” kata pihak pengembang.
Pemerintah dan organisasi keamanan di berbagai negara menyampaikan imbauan serupa kepada para pengelola situs web agar segera mengamankan platform mereka.
Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) meminta seluruh organisasi yang menggunakan PHP menonaktifkan sistem mereka jika tidak dapat segera memasang pembaruan keamanan. NSA memperingatkan bahwa kelemahan tersebut dapat menjadi “jalur langsung” untuk mengeksploitasi basis data suatu sistem.
“Risiko ini cukup serius sehingga memerlukan penerapan pembaruan keamanan segera di seluruh departemen dan lembaga Pemerintah Amerika Serikat,” kata NSA.
Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris juga memberikan saran serupa. Lembaga tersebut meminta organisasi memeriksa kemungkinan adanya backdoor, yakni akses tersembunyi yang dipasang penyerang untuk menyusup ke dalam sistem.
Lembaga sejenis di Uni Eropa, Singapura, dan Australia juga mengeluarkan peringatan serupa. Bahkan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak masyarakat untuk memeriksa apakah situs web mereka yang dapat diakses publik menggunakan PHP.
“Kami memiliki permintaan mendesak agar semua orang mengambil tindakan malam ini,” tulis Takaichi melalui platform X.
“Jika pembaruan perbaikan sulit diterapkan dengan segera, penangguhan sementara situs web dan langkah serupa dapat dipertimbangkan sebagai cara efektif untuk mengurangi risiko,” katanya.
Perusahaan teknologi juga berlomba-lomba mengamankan sistem mereka. Raksasa perdagangan elektronik Amazon mengonfirmasi telah menjadi sasaran beberapa upaya serangan beberapa hari sebelum persoalan PHP diumumkan kepada publik. Belum diketahui bagaimana calon penyerang tersebut mengetahui adanya kerentanan itu.


















