Ilustrasi - BMKG menyampaikan bahwa suhu panas di RI turun, namun potensi hujan lebat-cuaca ekstrem di Jawa, Bali hingga Sulawesi meningkat. (Foto: Pixabay).
JAKARTA, (ERAKINI) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya perubahan signifikan pada kondisi cuaca nasional. Setelah beberapa pekan terakhir Indonesia dilanda suhu panas ekstrem, kini intensitas panas mulai menurun dan digantikan oleh peningkatan curah hujan di sejumlah daerah.
Dalam beberapa hari terakhir, BMKG mencatat kejadian hujan sangat lebat dengan curah hujan harian mencapai lebih dari 100 mm di sejumlah wilayah. Di antaranya tercatat di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (122,6 mm/hari), Balikpapan, Kalimantan Timur (116,9 mm/hari), Jakarta Selatan, DKI Jakarta (141,4 mm/hari), serta Manggarai, Nusa Tenggara Timur (100 mm/hari).
Sementara itu, kondisi cuaca panas ekstrem yang sempat melanda sebagian besar wilayah Indonesia menunjukkan tanda-tanda penurunan. Suhu maksimum dalam beberapa hari terakhir tercatat 37,0°C di Kupang (NTT), 36,4°C di Majalengka (Jawa Barat), dan 36,2°C di Konawe Selatan (Sulawesi Tenggara). BMKG mencatat bahwa wilayah dengan suhu di atas 36°C kini semakin berkurang dibandingkan pekan sebelumnya.
Dalam pekan terakhir Oktober 2025, BMKG memprediksi peningkatan peluang hujan di berbagai wilayah Indonesia, meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Maluku, Papua, serta sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Peningkatan aktivitas hujan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer berskala global, regional, dan lokal. BMKG menjelaskan bahwa indikator DMI negatif menunjukkan meningkatnya pasokan uap air di wilayah barat Indonesia, disertai penguatan awan konvektif akibat aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berdampak pada Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.
Selain itu, gelombang atmosfer Rossby Equator yang aktif di Samudra Hindia barat daya Banten hingga selatan NTB, serta sirkulasi siklonik di wilayah Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Kalimantan, dan Maluku, turut memperkuat potensi pembentukan awan hujan. Kondisi atmosfer yang labil di sejumlah daerah juga dapat memicu hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang.
BMKG memperkirakan bahwa akhir Oktober 2025 menandai awal musim hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, serta Sulawesi bagian selatan.
Ciri khas awal musim hujan, menurut BMKG, umumnya berupa cuaca siang yang masih panas dan terik, diikuti hujan tidak merata pada sore hingga malam hari. Pergantian musim juga ditandai dengan perubahan arah angin dan peningkatan kelembapan udara.
BMKG mengingatkan masyarakat agar mewaspadai cuaca gerah yang sering terjadi sebelum hujan turun. Kondisi tersebut disebabkan oleh peningkatan kelembapan udara dan pemanasan permukaan bumi yang memicu pembentukan awan hujan secara cepat.
Seiring meningkatnya potensi hujan, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, seperti banjir, genangan air, dan tanah longsor, yang dapat mengganggu aktivitas harian maupun transportasi.
Peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan membawa dampak positif berupa berkurangnya suhu panas ekstrem. Namun, perubahan atmosfer yang cepat dapat menimbulkan ketidakstabilan cuaca di berbagai wilayah. BMKG menegaskan pentingnya kewaspadaan bersama agar masyarakat tetap aman, nyaman, dan siap menghadapi perubahan cuaca yang dinamis di masa transisi ini.