Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kembali digelar tahun 2025 dengan 3 kategori, yaitu buku puisi, novel dan cerpen yang terbit tahun 2024. (Foto: YRKI)
Event bergengsi sastra Indonesia ini akhirnya bisa kembali digelar usai sempat berhenti di tahun 2022 lalu sepeninggal sang pendiri, Richard Oh. Lalu, di tahun 2024, didirikanlah Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) yang digerakkan oleh istri Richard, Pratiwi Juliani, dan adiknya Linda Oh yang selanjutnya memprakarsai digelarnya Kusala Sastra Khatulistiwa2025 ini.
Adanya kategoribukucerpen di tahun ini menjadi hal baru di penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa yang mana ditujukan untuk memberi ruang berkembang lebih besar pada cerpen yang memiliki perkembangan sangat penting dalam tradisi sastra Indonesia.
“Penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini telah menunjuk 3 kurator program, yaitu Nezar Patria, Eka Kurniawan dan Hasan Aspahani,” kata Pratiwi Juliani dalam siaran pers yang diterima Erakini.
1. Kumpulan cerpen (minimal 2 cerpen),
2. Novel (panjang minimal 30.000 kata),
3. Kumpulan puisi (minimal 40 puisi atau 1 puisi panjang dengan total 40 halaman)
- Penerbit atau penulis mengirimkan setidaknya 2 eksemplar dari setiap judul karya yang diajukan,
- Pengiriman disertai dokumen pendukung berupa biodata penulis dan mencantumkan informasi kontak,
- Karya dikirimkan paling lambat tanggal 20 Februari 2025 (cap pos).
- Karya dikirimkan ke alamat: Kusala Sastra Khatulistiwa2025 ED Cluster No. 2A Jalan Gunung Indah V Cirendeu, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten 15445,
- Daftar panjang dan daftar pendek karya terpilih diumumkan sebelum pengumuman pemenang,
Adapun 3 buku terbaik masing-masing akan mendapatkan hadiah sebesar Rp75 juta. Tak hanya itu saja, masing-masing pemenang juga akan mendapatkan tambahan hadiah berupa pembelian buku senilai Rp25 juta.
Buku itu nantinya akan disebarkan ke sekolah, komunitas dan perpustakaan/taman bacaan masyarakat, sebagai dukungan pada penerbit, serta perluasan pembaca karya sastra yang berkualitas. Dengan demikian maka total nilai hadiah masing-masing pemenang menjadi Rp100 juta.
Pada tahun 2001, seorang penulis, pemilik toko buku, dan sutradara film Richard Oh, memiliki gagasan untuk menghadirkan sebuah penghargaan sastra yang kemudian ia beri nama Khatulistiwa Literary Award.
Nama ini berubah di tahun 2014, setelah mempertimbangkan banyak hal, termasuk untuk lebih konsisten mempergunakan bahasa Indonesia, menjadi Kusala Sastra Khatulistiwa. Melalui tangan dinginnya, juga kegigihannya menghadapi berbagai rintangan termasuk pandemi Covid 19, penghargaan ini terus berlangsung setiap tahun.
Sejumlah nama sastrawan Indonesia pernah mendapatkan penghargaan tersebut, baik untuk kategori prosa maupun puisi. Seno Gumira Ajidarma, Linda Christanty, Goenawan Mohamad, Hamsad Rangkuti, Acep Zamzam Noor, Nirwan Dewanto, Kiki Sulistyo, Ayu Utami, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Okky Madasari, Iksaka Banu, Leila S. Chudori, Inggit Putria Marga, Aan Mansyur dan banyak nama lainnya pernah naik ke panggung penghargaan ini, yang biasanya dilaksanakan di Plaza Senayan, Jakarta.
Kabar duka datang di tahun 2022, ketika Richard Oh, sang penggagas dan motor utama penghargaan ini meninggal. Pada tahun itu, Kusala Sastra Khatulistiwa berhenti. Di tahun berikutnya, pembicaraan mengenai pentingnya menghadirkan kembali Kusala Sastra Khatulistiwa mulai terdengar di antara orang-orang terdekat Richard Oh maupun dari komunitas sastra yang lebih luas.
Kemudian tahun 2024, didirikanlah Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) yang digerakkan oleh istri Richard, Pratiwi Juliani, dan adiknya Linda Oh. Lembaga ini berinisiatif meneruskan apa yang telah dibangun oleh semangat filantropis dan kecintaan terhadap kesusastraan dari seorang Richard Oh.