Puisi-Puisi Mh. Dzulkarnain
Mh. Dzulkarnain
Aku baru saja mencintainya
lewat beberapa beranda media
Aku rasa ia firdaus yang Tuhan pasung di baladah ini
dan membiarkan aku untuk berkelana dan mencicipi
setiap kelezatan tubuhnya
Perempuan itu aku sebut Ijen
yang memelihara sekuntum bunga sorga
tak ada roh penghianatan dari wajahnya
tak ada sketsa manipulasi dari molek tubuhnya
bahkan nyaris tak ada aroma dystopia di sana
Sungguh aku ingin bertemu
lalu bertamu dalam satu meja
yang di atanya tersaji sepiring hidangan
buatan Tuhan
dan sekilas itu mirip dengan pesona tubuhmu, Ijen.
Bandung, 2024
Hujan Bulan November
Hujan kembali mengetuk pintu dada
mengguyur seluruh kenangan di sana
Setiap rintiknya adalah kata-kata berjatuhan
entah kabar baik atau buruk bagi petani dan nelayan
November ini dimulai dengan kebasahan
punggung-punggung kota dan kaki-kaki desa kedinginan
Terlihat seorang penyair sedang menggigil di depan rumah
berharap ada pelukan untuk ia singgah
Bandung, 2024
Seperti Hujan yang Berjatuhan
Seperti hujan yang berjatuhan
kau basahi tubuh dengan kata-kata
dan doa yang dirubaiatkan penyair
mendung menggumpal di kepalamu
kini memadati ubun-ubunku
jatuhlah satu persatu puisi itu
ke setiap tubuhku dan tubuhmu
lalu, kita menggigil dalam pelukan dan kecupan
melepas hasrat dari jerat ruang kesendirian
dan tak lama kemudian hujan reda
namun kita tetap lekat dalam dekap


















