Ilustrasi – Cover buku cerpen pilihan Kompas 2023 'Istri Sempurna'. (Foto: Istimewa)
CERPEN terbaik pilihan Kompas 2023, ‘Istri Sempurna’ tampaknya tidak sepenuhnya sempurna. Berbagai catatan dan komentar di media sosial menunjukkan ketidakpuasan yang cukup kentara. Budi Hatees bahkan secara tegas menyimpulkan langsung dalam judul esainya di bengkelkreatif[dot]id: “’Istri Sempurna’ Gagal Sebagai Cerpen Terbaik Kompas”. Sedangkan A.S Laksana mempertanyakan kebaruannya.
Jadi, artikel ini akan membahas cerpen ‘Istri Sempurna’ karya Aveus Har dengan dua dasar isu yang berkembang. Pertama, apakah ‘Istri Sempurna’ gagal sebagai sastra? seperti dakwaan Budi Hatees, dan kedua apakah Karya Har itu merupakan sesuatu yang baru? seperti dipertanyakan oleh A.S Laksana.
Dalam ‘Istri Sempurna’ karya Aveus Har, bila kita baca, narasinya dibangun secara intim dan melankolis, mengeksplorasi pernikahan, cinta, dan eksistensi manusia. Sejak awal, pembaca dihadapkan pada realitas yang tampak manusiawi, sebelum akhirnya diungkapkan bahwa sang istri ternyata bukan manusia, melainkan gynoid (robot humanoid).
Pengungkapan fakta ini memaksa pembaca untuk mengevaluasi ulang peristiwa dan tema yang telah dibangun sebelumnya, terutama terkait identitas, hubungan, dan pemenuhan emosi. Dan itulah yang barangkali disorot secara miring oleh kalangan sastra.
Salah satu kelemahan utama cerpen ini adalah penggunaan teknik red herringyang berisiko menciptakan kejutan yang terasa manipulatif. Fakta bahwa sang istri adalah gynoid baru diungkap di akhir cerita, tanpa adanya petunjuk yang cukup eksplisit sebelumnya.
Meskipun Aveus Har, meencoba memberikan beberapa detail seperti klausa ‘dia telah menunggu momen ini sejak penciptaannya’ atau kemampuannya menghitung dengan cepat bisa menjadi petunjuk awal. Tetapi petunjuk ini baru memiliki makna setelah pembaca mengetahui kebenaran di akhir cerita. Sebelumnya, frasa-frasa tersebut lebih tampak sebagai hiperbola atau metafora.
Teknik kejutan seperti ini, yaitu menggunakan red herringsering kali digunakan dalam fiksi misteri, di mana pembaca dituntun untuk percaya pada suatu realitas sebelum disubversi oleh pengungkapan akhir.
Namun, dalam ‘Istri Sempurna’, keberadaan red herringtidak sepenuhnya terintegrasi dalam tema utama cerita, melainkan hanya terasa sebagai alat untuk mengejutkan pembaca. Dalam sastra, kejutan bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari alur yang secara alami mengarah ke kesimpulan cerita.
Sebagai perbandingan, dalam The Necklace karya Guy de Maupassant, plot twist di akhir cerita muncul secara alami dari rangkaian peristiwa yang telah ditanamkan sejak awal. Pembaca mungkin tidak menyadari sepenuhnya, tetapi setelah twist terungkap, semua elemen cerita tetap masuk akal dalam narasi.
Sementara itu, dalam ‘Istri Sempurna’, pengungkapan bahwa sang istri adalah gynoid justru membuat pembaca merasa tertipu karena cerpen ini tidak memberi cukup landasan yang memungkinkan pembaca untuk menduga kemungkinan tersebut lebih awal. Di sini, kita mendapatkan jawaban atas ketidakpuasan sebagian pembaca dalam masyarakat sastra kita.
Dalam banyak karya fiksi spekulatif, keberhasilan plot twist bergantung pada keseimbangan antara twist dan foreshadowing. Twist yang baik adalah twist yang terasa tak terduga tetapi tetap masuk akal setelah dipikirkan kembali.
Dalam kasus ‘Istri Sempurna’, twist ini justru membuat pembaca merasa tertipu, bukan tercerahkan. Hal ini terjadi karena, pertama, minimnya foreshadowing yang jelas. Meskipun ada petunjuk tersembunyi, hanya saja, semua itu terlalu samar sehingga tidak berfungsi sebagai bagian dari pemahaman awal pembaca. Akibatnya, pembaca merasa ditipu. Dan itu yang kita rasakan.
Kedua, ‘Istri Sempurna’ hanya mengandalkan kejutan semata. Kejutan bukanlah tujuan utama dari twist yang baik, melainkan alat untuk memperdalam makna cerita. Dalam ‘Istri Sempurna’, twist ini tidak memiliki dampak tematik yang cukup kuat selain sebagai kejutan semata. Jika tujuan cerita adalah mengeksplorasi batas antara manusia dan mesin, maka narasi bisa memberikan petunjuk yang lebih jelas untuk membangun ketegangan.
Sebagai contoh, dalam novel ‘Klara and the Sun’ karya Kazuo Ishiguro, sejak awal pembaca diberi tahu bahwa protagonisnya adalah robot. Fokus cerita bukan pada mengejutkan pembaca dengan fakta ini, melainkan mengeksplorasi bagaimana kesadaran artifisial berinteraksi dengan dunia manusia. Demikian pula dengan film ‘Her’ dan ‘Ex Machina’.
Film ‘Her’ (2013), misalnya karya Spike Jonze adalah contoh fiksi spekulatif yang luar biasa yang mengeksplorasi hubungan antara manusia dan teknologi, namun tetap mengharukan dan mengejutkan tanpa menggunakan red herring.
Film ini mengisahkan Theodore, seorang penulis kesepian yang jatuh cinta pada Samantha, sebuah sistem operasi AI yang canggih. Bobot emosional film ini berasal dari evolusi otentik hubungan mereka, bukan ketegangngan yang dibuat-buat, dan bukan juga kejutan artifisialnya.. Kejutan dalam film ‘Her’ muncul bukan dari pengungkapan yang mengejutkan, tetapi dari bagaimana ikatan Theodore dan Samantha secara alami semakin dalam.
Ketika Samantha tumbuh melampaui pemrograman awalnya, cerita ini tidak menipu kita untuk berpikir bahwa ia adalah manusia - sebaliknya, cerita ini membuat kita mempertanyakan sifat dasar dari cinta, kesadaran, dan koneksi. Patah hati terjadi ketika Samantha berevolusi di luar pemahaman Theodore, bukan karena alur cerita yang tiba-tiba berubah, tetapi karena kebenaran emosional yang tak terelakkan.
Dengan berfokus pada pengembangan karakter, pergeseran perspektif, dan kejujuran emosional, ‘Her’ menunjukkan bahwa fiksi spekulatif dapat mengejutkan dan sangat menyentuh tanpa menyesatkan penontonnya. Film ini mengundang kita untuk merenungkan hubungan kita dengan teknologi dan satu sama lain, sehingga dampaknya akan bertahan lama dan mendalam.
Tentu saja, sebuah cerita yang hebat tidak perlu membodohi kita untuk sekadar mengejutkan. Cerita ini hanya perlu menunjukkan kebenaran dengan cara yang tidak kita duga. Jika ‘Istri Sempurna’ mengambil pendekatan serupa, cerita ini bisa lebih kuat dan berhasil tanpa bergantung pada kejutan semata.
A.S Laksana dalam catatan di Facebook mempertanyakaan apakah karya Aveus Har ini adalah sesuatu yang baru. Pertanyaan ini tentu saja penting untuk disampaikan, mengingat bahwa fiksi sastra, bukan sekadar cerita, tetapi ia sekaligus soal penanda pergerakan kebudayaan atau sastra kita. ‘Istri Sepurna’ adalah sebuah fiksi spekulatif. Fiksi spekulatif sering kali mengeksplorasi hubungan manusia dengan teknologi, terutama dalam konteks kecerdasan buatan dan makhluk buatan.
Dalam sejarah sastra, gagasan tentang robot atau android yang meniru manusia telah muncul sejak ‘Frankenstein’ (1818) karya Mary Shelley hingga karya-karya Isaac Asimov seperti ‘I, Robot’(1950). Namun, sebagai genre dalam sastra, secara formal apa yang dikenal sebagai fiksi spekulatif ini memperoleh legitimasi melalui penulis seperti Robert Heinlein, Ursula K. Le Guin, dan Octavia Butler di sekitar tahun 1940-an-1960-an.
Kita bisa mendapatkan rumusannya secara jelas dalam esai Heinlein berjudul ‘On the Writing of Speculative Fiction’ (1947) yang secara eksplisit membahas tujuan dan parameter genre tersebut, yang memperkuat pengakuannya.
Dengan demikian, dalam konteks karya Aveus Har sebagai bagian fiksi spekulatif, ‘Istri Sempurna’ bukanlah sesuatu yang baru. Premis tentang robot yang menyerupai manusia dalam hubungan emosional telah banyak dieksplorasi dalam berbagai media sejak lama.
Misalnya, dalam ‘Klara and the Sun’ (2021), Klara adalah AI humanoid yang memiliki empati dan kecerdasan emosional, tetapi tetap terikat pada keterbatasan pemrogramannya. Sementara itu, dalam film ‘Ex Machina’(2015) karakter Ava menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi manusia.
Namun, yang membuat ‘Istri Sempurna’ memiliki nilai sastranya adalah cara cerpen ini menyoroti absurditas kesempurnaan dalam hubungan manusia. Cerpen ini menunjukkan bagaimana kesempurnaan yang diciptakan justru berujung pada kehampaan emosional. Tokoh utama tidak bisa menerima bahwa istrinya selalu sempurna, karena dalam hubungan manusiawi, ketidaksempurnaan dan konflik adalah elemen yang membuat hubungan itu hidup.
Cerpen ini juga dapat dilihat dalam konteks yang lebih luas, yakni hubungan manusia dengan teknologi yang semakin dominan dalam kehidupan modern. Gagasan bahwa manusia dapat menjalin hubungan emosional dengan AI atau makhluk buatan bukanlah sekadar spekulasi futuristik, tetapi telah menjadi topik yang semakin relevan. Kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami dan memenuhi kebutuhan emosional manusia telah berkembang pesat, sebagaimana terlihat dalam chatbot canggih atau asisten virtual yang semakin personal.
Dalam diskursus teknologi dan filsafat, cerpen ini juga mengundang refleksi terhadap konsep uncanny valley, yaitu ketidaknyamanan yang muncul ketika sesuatu yang bukan manusia tampak atau berperilaku sangat mirip manusia. Dalam ‘Istri Sempurna’, si suami tidak dapat menerima kesempurnaan istrinya justru karena ia begitu sempurna, tanpa cacat, tanpa ketidaksempurnaan manusiawi yang membuat hubungan menjadi hidup. Hal ini menimbulkan pertanyaan; apakah dalam upaya menciptakan kesempurnaan, kita justru kehilangan esensi manusiawi itu sendiri?