Penyaluran kredit perbankan di tanah air ternyata masih tetap seret meski likuiditas sudah dilongkarkan. Foto: Ilustrasi/Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Penyaluran kredit perbankan di tanah air masih tetap seret meski likuiditas sudah dilongkarkan. Lambatnya pertumbuhan kredit perbankan ini disebabkan ketidakpastian ekonomi dan tingginya porsi undisbursed loan.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa pelaku usaha hingga kini masih bersikap wait and see akibat ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.
"Selain itu, porsi kredit yang telah disetujui namun belum dicairkan (undisbursed loan) masih tinggi, berada di kisaran 25–29 persen," ujar Andrydalam paparan Macro Economic Outlook Q4 2025 di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Menurut laporan Office of Chief Economist Bank Mandiri, kredit modal kerja, yang mendominasi 53 persen portofolio kredit, juga mengalami perlambatan karena pelaku usaha menunda ekspansi di tengah prospek ekonomi yang belum sepenuhnya solid.
Di sisi lain, suku bunga kredit tidak turun secepat BI Rate, sehingga minat kredit tetap rendah. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kondisi ekonomi yang belum stabil membuat bank lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan, dengan kecenderungan memilih debitur berisiko rendah.
Segmen UMKM juga masih mengalami tekanan sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan kredit belum optimal.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa banyak perusahaan memilih melunasi pembiayaan internal dibanding mengajukan kredit baru.
Meski demikian, Andry optimistis prospek penyaluran kredit akan membaik. Ia menilai stabilitas geopolitik global, pelemahan dolar AS, serta pelonggaran moneter domestik diperkirakan akan mendukung arus modal dan permintaan kredit.
Perbaikan belanja pemerintah serta inflasi yang tetap dalam target Bank Indonesia juga menjadi faktor pendorong daya beli dan kredit konsumsi.
“Memasuki 2026, arah kebijakan pemerintah sudah semakin terang. Sepanjang semester II 2025, kebijakan yang ditempuh terlihat jelas, sehingga memasuki 2026 sudah ada kejelasan,” kata Andry.
Ia berharap konsistensi kebijakan fiskal pemerintah sepanjang semester II 2025 dapat menjadi dorongan bagi ekspansi kredit ke depan.
Data Bank Mandiri menunjukkan pertumbuhan kredit pada Oktober 2025 melambat menjadi 7,36 persen secara tahunan (dari 7,70 persen yoy), atau 4,96 persen *year-to-date* (ytd), lebih rendah dibandingkan 7,04 persen ytd pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,48 persen secara tahunan, didorong oleh peningkatan akses likuiditas dari sektor swasta serta insentif pemerintah dan BI. Likuiditas perbankan tetap stabil tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang berada di level 84,26 persen.