Serangan brutal Israel di kamp pengungsian Al-Mawasi, Khan Younis, Gaza Selatan, pada hari Sabtu, menewaskan sedikitnya 90 warga Palestina dan melukai 300 lainnya. Foto: Al Jazeera/Reuters
JAKARTA, (ERAKINI) - Serangan brutal Israel di kamp pengungsian Al-Mawasi, Khan Younis, Selatan, pada hari Sabtu, menewaskan sedikitnya 90 warga dan melukai 300 lainnya.
Al-Mawasi merupakan sebuah zona aman yang ditetapkan oleh Israel. Al-Mawasi dikelilingi oleh tempat penampungan sementara yang padat setelah warga Palestina mengungsi ke sana akibat perang.
Foto dan video yang diverifikasi oleh kantor berita Sanad Al Jazeera menunjukkan warga Palestina terus mencari korban yang tertimbun puing-puing bangunan di lokasi serangan.
Dikutip dari Al Jazeera, Minggu (14/7/2024), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berdalih serangan itu menargetkan komandan senior Hamas Mohammed Deif. Israel pun mengkalim Deif terbunuh dalam serangan itu.
Tetapi, Hamas mengatakan klaim Israel bahwa Deif menjadi sasaran hanya alibi. Faktanya, banyak warga sipil yang tidak berdaya terbunuh dalam pembantaian yang mengerikan tersebut.
Mohammad Subeh, seorang dokter yang merawat korban luka menyebutkan petugas penyelamat harus menggali orang-orang yang tertimbun puing-puing di Al-Mawasi akibat serangan udara tantara Israel itu.
PBB dan beberapa negara di Timur Tengah, termasuk Qatar, Turki, Arab Saudi, serta Iran, mengutuk serangan mematikan tersebut dan memperbarui seruan gencatan senjata.
Doha telah bekerja sebagai mediator dalam negosiasi gencatan senjata. Pada hari Sabtu, mereka menyebut pembantaian yang mengejutkan dan brutal di Al-Mawasi sebagai babak baru dalam serangkaian kejahatan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga Palestina.
Mereka memperingatkan serangan itu akan semakin melemahkan upaya perdamaian abadi, sehingga memperluas siklus kekerasan di kawasan dan mengancam perdamaian dan keamanan internasional.
Kementerian Luar Negeri Turki menyebut serangan itu sebagai sebuah fase dari upaya pemerintah Netanyahu untuk memusnahkan seluruh rakyat Palestina.
“Fakta bahwa Israel sekali lagi memilih untuk melakukan pertumpahan darah ketika diharapkan untuk menanggapi tanggapan positif Hamas terhadap (proposal) gencatan senjata adalah bukti bahwa pemerintahan Netanyahu berusaha mencegah negosiasi untuk gencatan senjata permanen,” kata Kementerian luar Negeri Turki.
Sementara, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyerukan pengaktifan mekanisme akuntabilitas internasional terhadap pelanggaran yang dilakukan Israel.
“Kementerian Luar Negeri mengutuk keras kelanjutan pembantaian genosida terhadap rakyat Palestina yang dilakukan oleh mesin perang Israel, yang terbaru adalah menargetkan kamp-kamp pengungsi di Khan Younis di selatan Jalur Gaza," tulis Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dalam sebuah pernyataan.
Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Pendudukan Palestina Francesca Albanese, juga mengutuk keras serangan Israel. “Saya muak dengan toleransi impunitas Israel yang memungkinkan terjadinya perang genosida,” kata Albanese.
Pada bulan Maret, Albanese mengeluarkan sebuah laporan yang mencantumkan alasan kuat untuk meyakini bahwa Israel melakukan genosida di Gaza.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menyebut serangan terhadap Al-Mawasi sebagai kejahatan terbaru dari serangkaian kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis.
“Zionis sekali lagi secara brutal menunjukkan bahwa untuk mengkompensasi kekalahan yang diderita di medan perang dengan perlawanan. Mereka tidak mengakui garis merah yang manusiawi dan bermoral terhadap penduduk Jalur Gaza yang tidak berdaya,” kata Kanaani dalam postingannya di X.
Nabil Abu Rudeineh, juru bicara kepresidenan Otoritas Palestina (PA), yang memerintah sebagian Tepi Barat yang diduduki Israel, menyebut serangan terhadap al-Mawasi sebagai kelanjutan perang genosida terhadap rakyatnya. Ia menilai Pemerintah AS bertanggung jawab atas hal tersebut.
“Tanpa dukungan Amerika yang buta dan bias, pendudukan ini tidak akan mampu melanjutkan kejahatan berdarah terhadap rakyat kami, dan menentang hukum internasional dan keputusan pengadilan internasional yang menuntut diakhirinya serangan dan perlindungan bagi rakyat kami,” kata dia dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita resmi Wafa.
Meskipun Presiden AS Joe Biden belum menanggapi serangan itu, Anggota Kongres AS Pramila Jayapal menyerukan perlunya upaya lebih kuat untuk menghentikan serangan brutal Israel. Dia menegaskan perlunya gencatan senjata segera dan permanen untuk membebaskan para sandera dan menyelamatkan nyawa manusia.
“Israel terus melakukan serangan mengerikan di Gaza, memaksa penutupan fasilitas medis dan bahkan membatasi masuknya peralatan medis,” kata Jayapal dalam sebuah postingan di media sosial.