Cover Novel 'Pendosa yang Saleh' karya Royyan Julian yang diulas dalam resensi berjudul 'Tradisi Pesantren dan Kelainan Orientasi Seksual' kiriman dari pegiat literasi M. Kholilur Rohman. (Foto: Istimewa)
Judul buku : Pendosa yang Saleh Penulis : Royyan Julian Penerbit : Cantrik Pustaka Cetakan : Februari, 2021 Tebal buku : 126 halaman ISBN : 978-602-0708-97-3
NOVEL terbitan Cantrik Pustaka ini mengandung kisah romance dengan tokoh utama yang dinamai Mubarak. Kisah cinta tersebut melibatkan sisi psikologis yaitu orientasi seksual sekaligus sosiokultural yaitu tradisi pesantren yang begitu kental.
Tiga aspek tersebut; cinta, psikologi dan tradisi, dikemas dalam alur yang saling mengikat, dialog yang kuat, dan narasi-narasi memukau anti mainstream yang jarang ditemui pada penulis-penulis novel lainnya.
Jujur saja, jika dilihat dari judul, novel ‘Pendosa yang Saleh’ anggitan Royyan Julian ini, penulis seolah-olah ingin memberikan kabar baik bagi para pendosa, khususnya yang bertalian erat dengan kelainan gairah seksual.
Bahwa mereka masih memiliki kemungkinan untuk masuk surga. Meski cara menyalurkan hasrat seksual tokoh utama terbilang tidak normal atau menyalahi aturan syari’at agama. Hal ini mengindikasikan bahwa kasih sayang dan ampunan Tuhan begitu lapang terhampar bagi seluruh hamba-Nya.
Dari sisi penyajian cerita, Royyan Julian dengan segenap kemampuan menulisnya berhasil membuat pembaca betah berlam-lama sampai pada penghujung cerita. Alur maju-mundur yang disajikan penulis membuat pembaca harus ekstra jeli dalam memperhatikan perpindahan adegan dan konflik.
Karena setiap perpindahan adegan menyimpan petunjuk untuk dibawa pembaca ke akhir cerita. Hebatnya, penulis berhasil mengemas alur yang begitu ciamik dan dialog yang cukup berhimpun menjadi narasi yang indah-memukau.
Cerita bermula dari mimpi Mubarak (tokoh utama) yang bertemu Nabi. Dalam mimpi itu, sang Nabi mengabarkan berita baik pada Mubarak. Hal itu tampak dari kalimat sang Nabi yang berbunyi “Jangan cemas, Anakku. Surga juga disediakan bagi para pedofil yang saleh”.
Secara tidak langsung, kalimat nabi tersebut menunjukkan ampunan Tuhan yang begitu luas. Bahwa sebesar apapun seorang hamba melakukan dosa, tetap lebih luas pengampun Tuhan dengan syarat sang hamba benar-benar melakukan taubat nasuha (taubat yang sungguh-sungguh).
Tentu dengan kriteria taubat yang ditetapkan agama. Dari mimpi itu, perasaan lega datang dalam diri Mubarak. Secara jelas, salah satu dalil luasnya ampunan Tuhan termaktub dalam surat Ali Imran ayat 133.
Cinta memiliki cara kerjanya sendiri. Ia tak bisa didekte oleh siapapun. Termasuk agama bahkan Tuhan sekalipun. Cinta menyelundup begitu saja dalam hati seseorang, lalu membuat sang pecinta menjadi hamba dari perasaannya sendiri.
Tak heran jika ada istilah “Setiap pecinta akan menjadi hamba dari yang dicintainya”. Status kehambaan tersebut tampak dari pemaksaan hasrat untuk melanggar aturan kaum mayotitas atau adat dari sebuah masyarakat.
Layaknya kaum muda-mudi kekiniaan yang meromantisasi status dan hubungan pacaran meski dalam kepala mereka sudah terpatri ayat “Jangan sekali-sekali mendekati zina”.
Lebih jauh lagi, Mubarak yang diceritakan sebagai tokoh utama terjebak dalam segitiga cinta sekaligus, dimana tiga cinta tersebut menyimpan motif masing-masing sekaligus implementasi yang berbeda.
Tiga orang yang dicintai Mubarak diantaranya ialah Rosiana, Suhairiyah, dan Barnabas. Dengan Rosiana, cinta Mubarak tumbuh dan berkembang dari sisi pola pikir Rosiana yang cerdas-kritis dan fisiknya yang begitu memukau. Sebut saja kulit putih, tinggi, seksi, dan semacamnya.
Dengan Suhairiyah, cinta Mubarak lahir dari kedekatan, kebiasaan, dan unsur pertemanan hingga membuat keduanya saling nyaman. Sementara dengan Barnabas, cinta Mubarak tumbuh seiring naluri dirinya yang memang berorientasi seksual pada anak kecil.
Tiga cinta tersebut terjalin dalam waktu yang berbeda. Meski perbedaan tersebut tetap memiliki alasan bahwa ketiganya memiliki hubungan. Dari cinta tiga arah sebagaimana yang telah disebut, tentu terdapat konsekuensi sekaligus tembok besar yang menghalangi.
Tembok yang menghalangi cinta Mubarak dan Suhairiyah adalah jarak. Tembok yang menghalangi cinta Mubarak dan Rosiana adalah agama. Mengingat keduanya berbeda keyakinan. Dan tembok yang menghalangi cinta Mubarak pada Barnabas adalah ketidaknormalan orientasi seksual. Karena tidak sepatutnya seorang Gus pondok pesantren mengalami hal yang demikian. Tentu, keadaan tersebut adalah aib tersendiri yang harus ditutupi.
Salah satu perwujudan rasa cinta ialah melalui hubungan seksual.Dengan segenap keberanian dan berahi yang kuat, Mubarak tetap melancarkan aksi gairah seksualnya pada Rosiana dan Barbanas.
Padahal, hubungan intim yang tidak dibangun dalam mahligai pernikahan tidak dapat disahkan menurut agama. Apalagi keduanya (Mubarak-Rosiana) memiliki identitas agama yang berbeda. Termasuk penyaluran hasrat seks yang tidak dibenarkan juga pada Barnabas. Sepertinya pada bagian ini, tokoh utama masuk dalam kategori pendosa sebagaimana yang ditegaskan penulis dalam judul buku ini.
Terlahir sebagai putra dari seorang kiai pondok pesantren, beban Mubarak sebagai penerus pesantren lahir begitu saja seiring takdir. Sehingga pada umumnya, layaknya Gus-gus pesantren lainnya, Mubarak dituntut untuk memiliki bekal pengetahuan agama yang cukup untuk menjawab segenap problematika yang ada di masyarakat. Khususnya yang berkenaan dengan agama. Pada bagian ini, cap “Kesalihan” melekat dalam diri Mubarak sebagi putra Kiai.
Namun, ada masalah yang lebih besar dari sekadar kewajiban menuntut ilmu bagi seorang Gus atau Lora, yakni kecenderungan orientasi seksual yang berbeda pada umumnya. Dan di bagian ini, menurut saya, awal mula kelainan orientasi seksual Mubarak diawali dari pemaknaan mimpi yang keliru.
Pemaknaan terhadap mimpi yang di dalamnya terdapat “Wildan Mukhallad” tersebut perlu ditelaah. Berhubung pengalaman mimpi tersebut pada usia remaja tentu sedikit-banyak memiliki pengaruh terhadap pola pikir Mubarak. Belum lagi fakta sejarah para leluhur dan adat masyarakat yang memiliki hubungan dengan kerubim yang dimaksud penulis. Pertanyannya, apakah di dalam mimpinya, Mubarak melakukan persetubuhan dengan “Wildan Mukhallad” sampai keluar mani, lalu ia merasa atau mengonsep dirinya sebagai seorang pedofil? Entahlah.
Apa yang terjadi pada Mubarak selaras dengan apa yang dijelaskan oleh Sigmund Freud (Santrock; 2006), termasuk Sigelman dan Rider (2009) juga menyatakan bahwa orientasi seksual akan dimulai pada tahap genital (puberty oradolescent). Pada tahap ini, individu akan mengidentifikasi orientasi seksualnya secara tidak sadar sebagai akibat dari pengalaman-pengalaman yang terjadi dan ditekan (refressed) pada masa kanak-kanak akan ditampakkan kembali pada tahap ini. Pandangan ini didukung oleh Davis & Petretic-Jackson (2000), Corliss dkk, (2002).
Lebih dikuatkan lagi, American Psychological Association (2008) juga menyatakan bahwa orientasi seksual merujuk pada suatu perasaan dan konsep diri dari individu. Jadi, bagaimana seseorang melihat dan memikirkan tentang dirinya juga akan mempengaruhi apakah orientasi seksualnya akan ditampakkan atau tidak ditampakkan dalam bentuk perilakunya. Hal ini yang sepertinya dialami oleh Mubarak.
Sigelman dan Rider (2009) juga menjelaskan bahwa perbedaan yang terjadi pada manusia merupakan produk dari nature dan nurture. Nature merujuk pada hereditas genetik (keturunan), proses maturasi dan secara biologis. Sementara nurture lebih menekankan pada sisi lingkungan, faktor belajar, pengalaman dan budaya. Dan sepertinya, menurut saya, kelainan orientasi seksual sebagaimana terjadi pada Mubarak adalah bagian dari nurture atas mimpinya.
Di sisi lain, adanya persetubuhan dan ketertarikan Mubarak pada Rosiana, mengindikasikan ada potensi sembuh atas kelainan orientasi seksual yang terjadi dalam diri Mubarak. Tinggal bagaimana usaha Mubarak untuk mengembalikan fitrah gairah orietasi seksualmya yang seharusnya tertuju pada lawan jenis yang seumuran, layaknya Rosiana.
Dijelaskan pula bahwa saat berhubungan badan dengan Rosiana, untuk memancing gairahnya, Mubarak juga sambil melihat foto anak kecil yang terpampang di tembok. Selain itu, kecenderungan Mubarak terhadap gairah seks pada anak kecil terlihat dari bagaimana penampakan rumah kontrakannya yang berisi warna-warna mencolok, boneka, dan foto-foto anak kecil yang banyak tertempel di tembok. Hal itu yang terus Mubarak tutupi, termasuk pada pacarnya sendiri, Rosiana.
Dari tiga kisah cinta tersebut, dapat disimpulkan bahwa Mubarak tergolong orang yang memiliki berbagai jenis orientasi seks. Pertama, Mubarak dapat dikategorikan sebagai demiseksual karena merasa tertarik secara seksual terhadap orang yang memiliki hubungan emosional erat dengannya. Dalam hal ini ialah Suhairiyah. Di sisi lain, Mubarak juga tergolong sapioseksual, yakni tertarik terhadap individu yang cerdas atau memiliki IQ tinggi, sebagaimana Rosiana. Karena Rosiana beberapa kali ditampilkan sevagai perempuan yang cerdas dan kritis. Tak heran jika Rosiana berprofesi sebagai jurnalis. Ditambah paras cantik yang ada dalam dirinya
Sementara itu, beberapa ahli menyebutkan bahwa orientasi seksual seseorang bukanlah sebuah pilihan dan tidak dapat diubah. Memaksa mengubah orientasi seksual seseorang justru dapat menyebabkan kerusakan pada orang tersebut, baik mental maupun fisiknya.
Maka dari itu, sangat penting untuk bisa menghormati orientasi seksual orang lain. Dan jika kelainan orientasi seksual ternyata berangkat dari kesalahan memaknai pengalaman, termasuk pada Mubarak, maka peran orang tua, guru, dan lingkungan menjadi sangat penting untuk benar-benar mengawasi tumbuh-kembang anak.
Tradisi dianggap sebuah kebiasaan sakral dalam lingkaran masyarakat. Eksistensi tradisi menjadi hukum tak tertulis yang harus ditaati oleh masyarakat setempat. Jika tidak, maka konsekuensinya adalah diskriminasi sosial yang bisa berujung pada pengasingan. Termasuk tradisi pesantren yang identik dengan nuansa religius dari lintas sektor.
Dalam novel "Pendosa yang Saleh", dijelaskan latar belakang Mubarak sebagai seorang Gus di salah satu Pondok Pesantren. Secara otomatis, nuansa religius sudah Mubarak terima sejak kecil. Bahkan, layaknya seorang Gus pada umumnya, Mubarak dituntut untuk memahami agama secara utuh sebagai bekal melanjutkan perjuangan sang bapak: Kiai Sattar.
Kiai Sattar diceritakan berbeda dengan para kiai kebanyakan yang biasanya mencari besan harus setara. Baik secara pendidikan maupun nasab. Sehingga, Mubarak diberikan kebebasan untuk menentukan arah hidupnya sendiri, termasuk dalam memilih kampus tempat Mubarak belajar. Mirisnya, Kiai Sattar sebagai orang tua tidak tahu-menahu atas kelainan orientasi seksual yang terjadi pada sang anak. Hal itu terbukti dari tidak adanya kecurigaan sama sekali yang ditampilkan penulis di dalam cerita. Ketidaktahuan tersebut yang perlu dikritisi karena membawa dampak buruk terhadap masa depan anak.
Mubarak yang digadang-gadang akan menjadi penerus pesantren, akhirnya berhasil keluar dari pesantren. Tidak tunduk pada titah sang Bapak atau adat pesantren yang mengharuskannya tinggal dan ikut mengurus pesantren. Padahal, motif utama Mubarak keluar dari pesantren ialah agar kelainan orientasi seksualnya dapat terlindungi, dan ia tidak merusak masa depan santri-santrinya. Tentunya, kepergian Mubarak dari pesantren untuk melindungi identitas dirinya yang memiliki kelainan orientasi seksual adalah bagian dari menjaga tradisi pesantren yang lekat terhadap ajaran agama islam. Mengingat agama islam mengajarkan hubungan yang sah hanya terjadi antara laki-laki dan perempuan melalui ikatan pernikahan. Itu pun masih diatur sedemikian rupa.
Hubungan lawan jenis ini berangkat dari salah satu ayat Al-Qur’an surat Al Hujarat ayat 13 yang artinya; “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan telah menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal”. Bagaimana jadinya jika masyarakat sekitar tahu atas apa yang terjadi pada Mubarak yang mengalami kelainan orientasi seksual, mengingat ia adalah putra dari Kiai yang menjadi panutan masyarakat. Utamanya masalah keagamaan.
Kesalehannya sebagai putra kiai membuatnya berpikir untuk lebih baik pergi meninggalkan pesantren. Meski kesalehan itu yang akhirnya kalah dengan identitas dirinya yang mengalami kelainan orientasi seksual. Mubarak harus ditemukan berdosa melalui penyaluran hasrat seksualnya pada Barnabas di akhir cerita.
M. Kholilur Rohman,
Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep. Tulisannya banyak dimuat di pelbagai media. Saat ini bermukim di Kota Malang dan menjadi Murabbi di Ma’had Sunan Ampel al-Aly (MSAA) UIN Malang. Bisa disapa di @kholil_rohmann.