Harga minyak dunia kembali turun pada Selasa (14/4/2026), seiring munculnya harapan akan adanya perundingan damai lanjutan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Harga minyak dunia langsung melonjak tajam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana memblokade Selat Hormuz, Minggu (12/4/2026).
Harga minyak dunia kembali naik seiring meningkatnya kekhawatiran atas rapuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul gelombang serangan Israel ke Lebanon.
Harga minyak langsung turun di bawah USD100 pada awal perdagangan Asia, Rabu (8/4/2026), setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa AS bakal lanjut serang Iran secara intensif selama 3 minggu ke depan. Harga minyak langsung melonjak tajam.
Harga emas dunia ambruk parah dan nyaris menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun 2026. Ini menjadi penurunan terburuk dalam 40 tahun atau sejak 1983.
Arab Saudi memperingatkan harga minyak dunia bisa melonjak hingga USD180 per barel jika gangguan di jalur distribusi utama, Selat Hormuz, terus berlanjut.
Harga minyak dunia terus meroket setelah pasar melihat belum ada tanda-tanda berakhirnya penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Harga emas dunia di pasar spot tercatat sebesar 5.018 dollar AS per troy ons menjelang hari raya Idul Fitri atau Lebaran 2026.
Harga minyak melejit imbas konflik Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel. Bagaimana nasib Indonesia?
Harga minyak mentah Brent hari ini melonjak dan menyentuh level tertinggi dalam empat bulan, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan serangan militer AS ke Iran.
Harga minyak mentah dunia anjlok pada Selasa (24/6/2025) setelah Israel dan Iran setuju gencatan senjata. Harga minyak mentah Brent turun drastis menjadi USD68 per berel.
Harga minyak dunia berpotensi naik jika perang Iran-Israel terus berlarut-larut. Kondisi ini dapat memicu tekanan terhadap harga BBM di Indonesia.
Sri Mulyani menyebut ketegangan Iran-Israel memiliki dampak cukup signifikan. Perang kedua negara dapat menimbulkan dua risiko utama, yaitu ketidakpastian harga minyak dan pelemahan ekonomi global.
Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi pelemahan permintaan, bahkan di tengah musim panas yang biasanya menjadi periode konsumsi tertinggi Bahan Bakar Minyak (BBM).